Pendidikangeografis

Mengenal 3 Pola Curah Hujan di Indonesia, Dari Sabang Sampai Merauke

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi. Rata-rata curah hujan di Indonesia cukup tinggi yaitu sekitar 2.000 – 3.000 mm/tahun. Namun kondisi curah hujan pada masing-masing wilayah berbeda.

Variasi curah hujan harian sebabkan faktor topografi seperti bukit, pegunungan dan variasi hujan bulanan atau musiman dipengaruhi oleh angin darat dan laut serta variasi hujan tahunan dipengaruhi oleh perilaku sirkulasi atmosfer global dan kejadian badai (Oni)

Indonesia secara umum termasuk dalam kategori iklim tropis dengan dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Akan tetapi sebaran curah hujan di setiap wilayah di Indonesia bervariasi karena berbagai faktor. Artinya di Indonesia tidak ada batas yang jelas antara musim penghujan dan musim kemarau karena Indonesia ada di wilayah Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT).

Berdasarkan distribusi data rata-rata curah hujan bulanan, BMKG umumnya membagi wilayah Indonesia dibagi menjadi 3 pola hujan, yaitu:

1. Pola curah hujan monsun

Curah hujan di Indonesia dipengaruhi oleh monsun yang digerakkan oleh adanya sel tekanan tinggi dan sel tekanan rendah di benua Asia dan Australia secara bergantian. Dalam bulan Desember -Januari –Februari (DJF) di Belahan Bumi Utara terjadi musim dengan akibatnya terjadi sel tekanan tinggi di Benua Asia, sedangkan di Belahan Bumi Selatan pada waktu yang sama terjadi musim panas, akibatnya terjadi sel tekanan rendah di Benua Australia.

Oleh karena terdapat perbedaan tekanan udara di kedua benua tersebut, maka periode DJF bertiup angin tekanan tinggi dari Benua Asia menuju tekanan rendah di Australia, angin ini disebut Monsun Barat atau Monsun Barat Laut.

Dalam bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) terjadi sebaliknya, terdapat tekanan rendah di Asia dan sel tekanan tinggi di Australia. Maka pada periode JJA bertiup angin dari tekanan tinggi di benua Australia menuju ke tekanan rendah di benua Asia, angin ini disebut Monsun Timur atau Monsun Tenggara.

Monsun Barat biasanya lebih lembab dan banyak menimbulkan hujan dibandingkan dengan Monsun Timur. Perbedaan banyaknya curah hujan yang disebabkan oleh kedus monsun tersebut karena perbedaan sifat kejenuhan dari kedua massa udara (angin) tersebut. Pada Monsun Timur arus udara bergerak di atas laut yang jaraknya pendek, sedangkan pada Monsun Barat arus udar bergerak di atas laut dengan jarak yang cukup jauh, sehingga massa udara Monsun Barat lebih banyak mengandung uap air dan menimbulkan banyak hujan dibanding Munson Timur.

Baca Juga:

2. Pola curah hujan equatorial 

Pola ini berhubungan dengan pergerakan zona konvergensi ke arah utara dan selatan mengikuti pergerakan semu matahari. Zona Konvergensi merupakan pertemuan dua massa udara (angin) yang berasal dari dua belahan bumi, kemudian udaranya bergerak ke atas. Angin yang bergerak menuju satu titik dan kemudian bergerak ke atas disebut konvergensi. Posisinya relatif sempit dan berada pad lintang rendah yang dikenal dengan nama Inter-tropical Convergence Zone (ITCZ) atau Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT). ITCZ juga dikenal dengan nama ekuator panas (heat equator) atau front ekuator (equatorial front).

Di atas Lautan Atlantik dan Pasifik ITCZ sangat dekat terhubung dengan “doldrums” (daerah maka ITCZ merupakan batas antara angin pasat utara-timuran dengan angin pasat selatan-timuran, sedangkan di atas benua pergeseran posisi ITCZ tampak lebih jelas. Sirkulasi Monsun terhubung dengan pergeseran utara-selatan dari ITCZ, dan juga tergantung pada kontras musiman dalam pemanasan daratan dan lautan sebagai suatu sistem yang kompleks.

ITCZ bergerak ke arah utara pada musim panas di belahan bumi utara (bulan Juli) dan bergerak ke arah selatan pada musim panas di belahan bumi selatan (bulan Januari) mengikuti lokasi pemanasan matahri maksimum, sehingga pada bulan Juli, yaitu saat terjadinya maksimum musim panas di belahan bumi utara, posisi ITCZ berada di sekitar di atas benua Asia dan antara 5 s/d 10 di atas lautan. Pada bulan Januari, saat terjadinya maksimum musim panas di belahan bumi selatan, ITCZ berada disekitar 15 di atas daratan (benua) dan dekat Khatulistiwa di atas lautan.

3. Pola hujan Lokal 

Pola curah hujan tipe lokal dicirikan dengan besarnya pengaruh kondisi setempat, yakni keberadaan pegunungan, lautan dan bentang pesisiran lainnya, serta terjadinya pemanasan lokal yang intensif. Faktor pembentuknya adalah naiknya udara yang menuju ke dataran tinggi atau pegunungan karena pemanasan lokal yang intensif. Tipe curah hujan ini banyak terjadi di maluku, Papua, sebagian Sulawesi.

Berikut ini menggambarkan pola curah hujan tipe lokal. Tipe curah hujan ini hanya terjadi satu kali maksimum curah hujan bulanan dalm satu bulan dan tampak adanya beberapa bulan kering yang bertepatan dengan bertiupnya angin Monsun (Muson) Barat.

Pola curah hujan Lokal (Type lokal) merupakan wilayahnya memiliki distribusi hujan bulanan kebalikan dengan pola monsun. Pola lokal dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodial (satu puncak hujan), tetapi bentuknya berlawanan dengan tipe hujan monsun. Seperti di wilayah Parigi moutong, Palu, Luwuk Banggai, Kepulauan Banggai, Taliabu, Sula, Buru bagian selatan,Seram bagian selatan, Ambon, Sorong, Raja Ampat, Teluk Bintuni, Fak-fak dan Sulawesi Selatan bagian pantai timur.

Baca Juga:

Secara umum pola curah hujan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Pantai sebelah barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak daripada pantai sebelah timur.
  2. Curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar daripada Indonesia bagian timur. Sebagai contoh, deretan pulau-pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang dihubungkan oleh selat-selat sempit, jumlah curah hujan yang terbanyak adalah Jawa Barat.
  3. Curah hujan juga bertambah sesuai dengan ketinggian tempat. Curah hujan terbanyak umumnya berada pada ketinggian antara 600 – 900 m di atas permukaan laut.
  4. Di daerah pedalaman, di semua pulau musim hujan jatuh pada musim pancaroba. Demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar.
  5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak DKAT.
  6. Saat mulai turunnya hujan bergeser dari barat ke timur seperti:
    1) Pantai barat pulau Sumatera sampai ke Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bulan November.
    2) Lampung-Bangka yang letaknya ke timur mendapat hujan terbanyak pada bulan Desember.
    3) Jawa bagian utara, Bali, NTB, dan NTT pada bulan Januari – Februari.
  7. Di Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah, musim hujannya berbeda, yaitu bulan Mei-Juni. Pada saat itu, daerah lain sedang mengalami musim kering. Batas daerah hujan Indonesia barat dan timur terletak pada kira-kira 120 Bujur Timur.

Baca Juga: Mengenal Jenis-jenis Hujan; Berdasarkan Proses Perjadinya Hingga Intensitas Curahnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button