Social & Culture

Jadi Simbol Lebaran dan Permintaan Maaf, Ini 9 Fakta Menarik Tentang Ketupat yang Jarang Diketahui

Mendengar kata ketupat, maka akan kita temui versi yang beragam, dari menu ketupat opor, operasi ketupat lalulintas, hingga festival perang ketupat.

Namun sejatinya, ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara maritim berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa yang masih muda.

Ketupat atau Kupat (dalam Bahasa Jawa) adalah beras yang dimasak pada daun kelapa muda (janur) yang dianyam membentuk suatu bangun ruang tertentu. Ada yang berbentuk seperti bawang, belah ketupat, jajar genjang, dll.

Tradisi ketupat ada sejak zaman Walisongo. Ketupat digunakan Walisongo sebagai salah satu cara penyebaran agama Ialam. Ketupat berasal konon diperkenalkan oleh Raden Mas Sahid atau yang dikenal dengan Sunan Kalijaga.

Beikut beberapa fakta menarik tentang ketupat yang jarang diketahui oleh orang.

1. Dahulu ketupat dijadikan sesaji

Jauh sebelum era Wali Songo, masyarakat agraris di Jawa dan Nusantara telah memiliki tradisi membuat sesajen dari beras yang dibungkus anyaman daun. Mitosnya, ini adalah persembahan untuk Dewi Sri, Sang Dewi Padi, sebagai wujud syukur atas panen yang melimpah.

Mereka juga percaya bahwa anyaman daun kelapa (janur) memiliki kekuatan magis. Di beberapa daerah, ketupat (atau bentuk awalnya) digantung di pintu rumah atau di lumbung padi sebagai tolak bala (penangkal sial), mengusir roh jahat dan mengundang kemakmuran.

Baca Juga:

2. Dijadikan media syiar Islam oleh sunan Kalijaga

Kisah Ketupat mengalami babak baru yang paling krusial ketika Islam mulai menyebar di tanah Jawa. Konon, Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, adalah arsitek utama di balik transformasi Ketupat.

Sunan Kalijaga dikenal jenius. Ia tidak memberangus tradisi lama. Sebaliknya, ia “mengisinya” dengan makna baru yang selaras dengan ajaran Islam. Ia melihat masyarakat Jawa sudah akrab dengan Ketupat sebagai bagian dari ritual.

Tradisi makan ketupat sudah sedari dulu dilakukan dalam masyarakat Jawa. Akulturasi budaya dalam menyampaikan nilai-nilai kehidupan inilah yang kemudian  dipakai oleh Sunan Kalijaga sebagai metode pendekatan ketika menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi Bakda Kupat (Lebaran Ketupat), yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri (setelah puasa Syawal). Ini adalah strategi akulturasi budaya yang cemerlang.

Tradisi ini kemudian diadopsi oleh kerajaan-kerajaan Islam, seperti Kesultanan Mataram. Ketupat menjadi hidangan penting dalam slametan (syukuran) kerajaan. Ia berevolusi dari sesajen Dewi Sri menjadi hidangan agung yang melambangkan penyucian diri di hari kemenangan, dinikmati oleh para Sultan dan rakyatnya.

3. Ketupat memiliki filosofi yang dalam

Secara fisik, anyaman ketupat juga merupakan simbol jalan hidup manusia yang penuh dengan permasalahan, penuh dengan liku-liku. Sementara daun kelapa muda yang mudah dibentuk, masih lentur, dan memiliki kondisi yang masih baik, secara filosofis menggambarkan sifat manusia yang dapat dibentuk, diarahkan, dididik agar hidupnya selalu indah.

Ketupat dibuat dari beras putih yang direndam kemudian dibungkus dalam anyaman daun kelapa lalu direbus selama 2 jam. Isi ketupat yang putih perlambang hati yang bersih. Lamanya proses pembuatan ketupat ibarat sebuah proses dalam menjalani hidup tak ada yang instan. Seperti roda yang berputar terkadang di atas kadang di bawah.

4. Jadi lambang permintaan maaf

Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat yang berari mengakui kesalahan dan Laku Papat yang berarti empat tindakan.

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini.

Sekaranm ketupat menjadi simbol permintaan maaf, Hal itu bisa dilihat di pesan/kartu lebaran yang menampilkan gambar ketupat untuk permintaan maaf.

5. Setiap sisi ketupat memiliki makna dan filosofi berbeda

Setiap sisi dan bentuk ketupat memiliki makna dan filosofi tersendiri. 4 sisi ketupat tersebut adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

  • Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.
  • Luberan bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin. contohnya mengeluarkan zakat, yang menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.
  • Leburan maknanya adalah habis dan melebur. Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.
  • Laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

6. Ketupat memiliki berbagai bentuk

Selain ketupat yang umum terbuat dari janur dan diisi dengan beras, ada beberapa jenis ketupat lainnya di antaranya ketupat bareh dari Sumatera Barat, ketupat Pulut dari Medan, ketupat Kapau dari Pekan Baru, ketupat palas ketupat yang di tutup daun lontar, ketupat landan dari Banjarnegara, ketupat pandan dan ketupat kandangan dari Kalimantan.

Dari berbagai bentuknya ketupat juga memiliki berbagai nama, seperti Ketupat Tumpeng, Ketupat Jago, Ketupat Bata, Ketupat Bagea, Ketupat Pandawa, Ketupat Sidalungguh, Ketupat Geleng, Ketupat Sari, Ketupat Debleng, Ketupat Sidapurna, Ketupat shinto dan Ketupat Bebek.

7. Mengayam ketupat membutuhkan kesabaran dan ketelitian

Bungkus anyaman dari ketupat adalah hal lain yang membuat hidangan ini begitu melegenda. Menganyam potongan daun kelapa muda alias janur sebagai pembungkus ketupat bukanlah tugas yang mudah untuk dilakukan. Kamu perlu ketelitian dan kesabaran yang cukup tinggi untuk membuatnya. Jalinan yang terbentuk dari anyaman ketupat juga dimaknai sebagai gambaran keragaman masyarakat Jawa yang harus diikat bersama untuk menjaga tali silaturahmi.

Baca Juga:

8. Lain daerah, lain nama dan penyajian

Ketupat mempunyai beberapa penyebutan yang berbeda-beda di berbagai daerah. Perbedaan penyebutan tersebut disebabkan, karena adanya perbedaan budaya dan bahasa.

Orang-orang Jawa dan Sunda menamai ketupat lebaran dengan “kupat”. Warga Bali menyebut makanan tersebut dengan sebutan “tipat”. Sementara itu, masyarakat Minangkabau menamainya “katupek”. Bagi warga Madura, ketupat disebut dengan “katopak”. Sedangkan orang Makassar menamai ketupat dengan “katupa”, dan masih banyak lagi macam-macam penyebutan lainnya, tergantung daerah asalnya.

Selain beda nama, cara penyajiaannya pun setiap di daerah memiliki perbedaan. Di Tegal, ada yang namanya ketupat glabed, ketupat blegong, juga ketupat bongko. Masyarakat Minang juga memiliki ketupat versi kecil yang dikenal dengan nama katupek katan kapau. Ada juga Kota Solo dengan ketupat cabuk rambak nya yang diiris tipis dan disiram campuran sambal wijen, kemiri, dan kelapa parut. Betawi pun punya ketupat bebanci, yaitu ketupat khas yang biasanya disajikan dengan gulai sapi penuh dengan rempah.

9. Ketupat disajikan dengan berbagai menu beragam

Saat lebaran, ketupat menjadi menu paling favorit yang disajikan. Berbagai menu pendamping ketupat seperti opor ayam, rendang, sayur labu, sambal goreng ati, sate, sayur nangka, gulai, dan banyak lagi yang lainnya. Setiap keluarga dan setiap daerah memiliki menu favorit pendamping ketupat yang beragam.

Nah gimana? Itulah fakta menarik tentang ketupat yang jarang diketahui orang. Ketupat telah menjadi bagian budaya lintas ras, suku dan agama.

Baca Juga: Akulturasi Budaya Jawa dengan Islam Melalui Ketupat

Fransisca Dewi

Doyan traveling, dan kuliner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button