Sekolah Kok Seram, Sebuah Kritik Terhadap Pendidikan Konvensional

Berisi tentang esai kritik terhadap pendidikan konvensional atau sekolah


Ilustrasi Sekolah

Sebuah tragedi kecil namun amat memalukan. Ketika itu saya bertemu seorang laki-laki tua di warung kelontong dekat tempat tinggal saya. Laki-laki tua itu menceritakan perihal tragedi kecil yang dialami dia dengan anaknya, yakni anak laki-lakinya enggan untuk berangkat sekolah. Berdasarkan cerita laki-laki tua itu, anaknya tidak berani untuk berangkat sekolah lantaran dimarahi dan dihukum oleh salah satu guru di sekolahnya.

Ketika saya mendengar keluhan dari laki-laki tua itu, sontak saja saya berfikir dan bertanya dalam hati, mengapa sekolahan sebagai salah satu tempat belajar sejak dahulu seakan menjadi musuh bebuyutan bagi siswa-siswanya? Mengapa sekolah sejak dahulu tampak menyeramkan? Dan mengapa sekolah sejak dahulu tidak pernah terasa menyenangkan? Atau jangan-jangan memang sekolahan itu didesain seperti ini?. Banyak sekali pertanyaan yang mengganjal dalam benak tentang lembaga yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya tempat untuk belajar itu.

Tragedi guru memarahi ataupun menghukum siswa kerap terjadi dalam pendidikan-pendidikan konvensional. Alih-alih mengajarkan kedisiplinan, namun malah membuat siswa-siswanya sendiri menjadi takut, malu, bahkan tidak jarang mereka depresi dan benar-benar tidak mau lagi untuk berangkat sekolah, seperti cerita yang sudah saya singgung di atas. yang lebih miris lagi, seperti kasus bunuh diri siswi SMA yang terjadi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan pada 17 Oktober 2020 lalu. Diketahui ia melakukan bunuh diri disebabkan oleh tugas sekolah yang begitu banyak.

Baca Juga:

Lagi-lagi alih-alih mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberi beban tugas bagi siswa, namun malah berujung tragis. Tragedi semacam ini tidak hanya satu dua kali terjadi, melainkan sering kali terjadi! Jika tidak percaya silahkan anda searching sendiri.

Ayolah mau sampai kapan pendidikan kita akan bertahan pada lembah kegelapan semacam ini, begitu menakutkan, menyeramkan, mengerikan bak rumah hantu. Belum tahu atau memang tidak mau tahu? Bahwa pendidikan lebih tepatnya sekolahan semestinya harus menyenangkan, menggembirakan, dan memberi kenyamanan. Bisakah sekolah seperti ini?

Sekolah harus seperti taman

Jika anda pelaku pendidikan, maka saya sangat yakin bahwa anda mengenal sosok yang dinobatkan sebagai bapak pendidikan Indonesia, yakni Ki Hadjar Dewantara. Pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hadjar Dewantara mendirikan sebuah lembaga pendidikan dengan nama National Onderwijs Institut Taman Siswa. Patut kita garis bawahi,  Ki Hadjar menamai lembaga pendidikan yang beliau dirikan dengan tambahan kata “taman”. Taman merupakan tempat bermain yang menggambarkan kesenangan, kenyamanan, dan mengasyikkan.

Melalui penamaan itu, Ki Hadjar berusaha menyadarkan pada khalayak ramai, bahwa pendidikan semestinya harus bisa menjadi tempat yang mengasyikkan bagi siswa, bukan sebaliknya. Penamaan yang kaya akan makna filosofis ini tentu bukan tanpa alasan. Coba amati! Secara etimologi sekolah berasal dari bahasa latin, yakni schola yang secara literal mengandung makna “waktu luang”. Kemudian, bahasa Inggris mengadopsi schola menjadi school.

Istilah sekolah dan asal usal-usulnya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Di sela-sela waktu luangnya kaum laki-laki Yunani senang sekali mengunjungi suatu tempat dimana pada tempat itu terdapat seorang yang bijak dan menjadikannya sebagai sumber pertanyaan. Kemudian, mereka menanyakan dan mempelajari suatu hal yang menurut mereka perlu untuk dimengerti. Mereka menyebut kegiatannya itu dengan empat istilah, yaitu scola, skhole, scolae, dan schola. Sekali lagi! Keempat istilah itu memiliki makna yang sama, yakni  “waktu luang yang dimanfaatkan untuk belajar.”

Filosofi inilah yang mendasari pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yang kemudian melahirkan konsep Patrap Triloka, yakni ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (yang ditengah membangun inisiatif), tut wuri handayani (dari belakang mendukung). Namun, entah mengapa kini pendidikan seakan kehilangan rohnya.

Sekolah yang seharusnya sebagai tempat untuk mengembangkan bakat, minat, dan rasa ceria untuk belajar serta bebas untuk menjadi manusia yang diinginkan, kini beralih konsep menjadi hal yang sangat diwajibkan. Terlebih, pada saat ini siswa yang menjadi subjek dalam pendidikan dipaksa untuk menelan kurikulum tertentu, sehingga memunculkan kebencian dan kebosanan untuk belajar.

Sekolah menjadi penyebab siswa malas untuk belajar

Entah respon apa yang akan muncul setelah esai ini dibaca oleh khalayak ramai, saya tidak begitu peduli! Karena memang benar adanya jika siswa malas untuk belajar itu disebabkan oleh sekolah. Ya, memang tidak semua sekolah, namun saya rasa hampir semua. Mari kita amati bersama!

Sekolah-sekolah kita pada dasarnya tidak menganut pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara, melainkan hanya menjadikannya sebagai label untuk menunjukan bahwa sekolah ini adalah produk asli dari anak bangsa. Andaikan sekolah kita menganut pemikiran Ki Hadjar tentu mereka tidak akan berani memaksakan siswa untuk menelan materi-materi yang mungkin saja tidak terlalu dibutuhkan oleh siswa, melainkan mereka akan menghargai Multiple Intelligence dan sudah pasti mereka akan menghargai individualitas, yakni bahwa siswa itu memiliki bakat alamiah masing-masing dan mereka akan sukses di bidangnya masing-masing.

Baca Juga:

Sayang sekali kenyataannya tidaklah demikian, setiap sekolah saat ini memaksakan siswa untuk mempelajari materi atau bidang tertentu, seperti Bahasa Inggris, Matematika, Bengkel, dan lain sebagainya, lalu mengabaikan bahwa tidak semua siswa memiliki minat yang sama. Pada sekolah macam ini siswa yang cerdas dibidang itu akan ditetapkan sebagai siswa yang berprestasi dan siswa yang tidak menguasai bidang itu akan dicap sebagai siswa nakal, tidak rajin, malas, atau mungkin goblok. Miris bukan? Siswa bukanlah adukan semen yang bisa dicetak sesuka hati, mereka memiliki bakat alamiah sejak lahir, dan mereka juga cerdas di bidangnya masing-masing.

Belum lagi, guru yang arogan sesuka hatinya menghukum, memarahi siswa, hanya karena tidak mengerjakan tugas, telat berangkat sekolah, atau tidur di dalam kelas. Tanpa memikirkan mengapa mereka melakukan hal itu. Bisa saja mereka tidak mengerjakan tugas lantaran tidak tertarik dengan materi itu atau tidak paham, bisa saja mereka telat berangkat sekolah karena banyak peristiwa di jalan yang menggugah minatnya untuk menyelidiki, bisa saja mereka tidur di dalam kelas karena malam tidak tidur lantaran sibuk mengembangkan bakatnya. Saya tahu tugas guru memang berat, ditambah gajinya yang di bawah UMR, namun bukanlah itu sejajar dengan gelar yang akan anda sandang (pahlawan tanpa tanda jasa).

Dalam pendidikan yang dibutuhkan adalah kesadaran dalam belajar, bukan keterpaksaan. Yang dibutuhkan dalam pendidikan bukanlah aturan, melainkan kesepakatan dan yang dibutuhkan dalam pendidikan bukanlah hukuman, melainkan konsekuensi yang masuk akal. Menghargai dan menghormati keberagaman kecerdasan siswa merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran siswa untuk belajar dan dengan kesadaran itulah motivasi belajar siswa akan benar-benar melonjak. Maka, berilah ruang bagi siswa untuk berekspresi dan menjadi dirinya sendiri.

Saya bukan menuntut untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang bebas tanpa arah dan tujuan, melainkan jadikanlah sekolah sebagai tempat untuk mengembangkan bakat alamiah yang telah mereka miliki, bukan malah menjadikan sekolah sebagai tempat untuk mencetak buruh industri. Maka, saya katakan jangan heran! Jika ada orang yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin rendahlah tingkat kreativitasnya.

Baca Juga: Menggugat Konsep Kurikulum Merdeka Belajar

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Explorer

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *