Sejarah, Peran, dan Arsitektur Masjid Agung Demak, Dibangun Langsung Oleh Walisongo!


Masjid Agung Demak (eibidiei.wordpress.com)

Masjid Agung Demak termasuk masjid tertua di Jawa. Lokasi Masjid Agung Demak terletak di pusat kota Demak, yang berjarak ± 26 km dari Kota Semarang.

Bangunan Masjid Agung Demak mempunyai nilai historis arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, karismatik, mempesona dan berwibawa. Kini Masjid Agung Demak difungsikan sebagai tempat peribadatan dan ziarah.

Sejarah Masjid Agung Demak

Pada akhir abad ke-15 Masehi, Raden Patah, seorang pangeran dari Majapahit yang kemudian menjadi pemimpin pertama Kesultanan Demak, memutuskan untuk mendirikan sebuah masjid. Masjid ini tidak sembarang masjid, ia didirikan dengan bantuan Walisongo, para penyebar Islam yang legendaris di Nusantara.

Sejarah mencatat bahwa pembangunan Masjid Agung Demak terbagi dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai pada tahun 1466 Masehi, ketika masjid masih berupa bangunan Pondok Glagah Wangi yang diasuh oleh Sunan Ampel dan Raden Patah. Kemudian, pada tahun 1477 Masehi, masjid dibangun kembali menjadi Masjid Kadipaten Glagah Wangi Demak.

Dan pada tahap ketiga, bertepatan dengan pengangkatan Raden Patah sebagai sultan, masjid ini direnovasi menjadi seperti yang kita kenal sekarang.

Baca Juga:

Masjid Agung Demak memiliki peran penting bagi penyebaran agama Islam

Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para Walisongo. Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar.

Sebelum agama Islam masuk, masyarakat wilayah Jawa umumnya masih menganut agama Hindu dan animisme. Masjid Agung Demak menjadi bukti akulturasi Islam dengan budaya lokal. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh para Walisongo. tidak dilakukan secara frontal dan penuh kekerasan. Para Walisongo memasukan unsur budaya, adat, dan kearifan lokal masyarakat dalam proses penyebaran agama Islam.

Bukti dari hal ini bisa dilihat dari bentuk Masjid Agung Demak yang dibangun dengan gaya khas Majapahit, yang membawa corak kebudayaan Hindu, yang dipadukan dengan langgam rumah adat tradisional Jawa Tengah.

Hal ini menunjukkan bahwa Walisongo di tanah Jawa memiliki kemampuan untuk mengharmonisasi kehidupan sosial di tengah masyarakat Hindu yang begitu dominan ketika itu. Mereka tidak mengubah sesuatu yang sudah mapan sebelumnya, asal tidak bertentangan dengan ketauhidan. Lewat konsep itu, Islam bisa diterima secara luas oleh masyarakat Jawa.

Arsitektur Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak mengusung gaya tradisional Jawa. Berbeda dari masjid pada umumnya yang memiliki kubah, atap masjid ini justru berbentuk limas dan bersusun tiga. Penutup atap dari sirap sebagai ciri khas daerah tropis.

Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.

Luas keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m dengan panjang keliling 35 x 2,35 m; bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3 m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka.

Bangunan masjid ditopang dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.

Bentuk bangunan masjid banyak menggunakan bahan dari kayu. Dengan bahan ini, pembuatan bentuk bulat dengan lengkung-lengkungan akan lebih mudah. Interior bagian dalam masjid juga menggunakan bahan dari kayu dengan ukir-ukiran yang begitu indah.

Baca Juga:

Secara arsitektural, Masjid Agung Demak memiliki keunikan dan ciri khas. Sedikitnya lima keunikan Masjid Agung Demak, yakni sebagai berikut.

1. Saka Tatal

Masjid Agung Demak memiliki empat saka (tiang) utama. Tiang-tiang itu tingginya 16 meter. Legenda yang beredar di masyarakat dan cerita-cerita rakyat, keempat tiang tersebut dibuat oleh empat wali, tak lain Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.

Salah satu dari tiang itu yang unik alias nyeleneh, tapi paling mengagumkan adalah saka tatal, tiang yang terbuat dari tatal atau serpihan-serpihan kayu sisa yang diikat. Saka tatal itu dipercaya buatan Sunan Kalijaga. Meski tidak terbuat dari kayu utuh, saka tatal ini kekuatannya sama dengan tiang-tiang lainnya.

2. Atap Berundak Tiga

Atap Masjid Agung Demak berbentuk limas yang berundak tiga. Dalam cerita-cerita yang ada, atap ini juga disebut sirap. Atap berundak ini disinyalir sebagai akulturasi budaya Hindu yang terserap masuk ke kultur Islam. Hal itu juga menjadi pertanda bahwa penyebaran Islam pada masa Walisongo sangat adaptif dan tidak konfrontatif terhadap budaya lokal.

Salah satu dari tiga undakan itu dipercaya masyarakat terbuat dari intip. Intip adalah kerak nasi yang terbentuk ketika menanak nasi liwet. Menurut cerita yang diamini secara turun-temurun, pada masa pembangunan atap masjid kekurangan bahan sirap. Konon Sang Sunan Kalijaga melemparkan intip ke atas masjid, dan kun fa yakun jadilah atap.

3. Lawang Bledeg

Lawang bledeg atau pintu petir adalah pintu utama Masjid Agung Demak. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo sekitar tahun 1446 M. Ki Ageng Selo dikenal seorang sakti yang mampu menangkap petir.

Pintu bledeg itu terbuat dari kayu tebal dengan ukiran naga. Ukiran itu punya warna yang menonjol dengan kombinasi warna merah. Dalam khazanah kultur Jawa, gambar di pintu ini merupakan candra sengkala (penanda waktu) kapan bangunan masjid itu dibuat. Adapun bunyi prasasti itu sendiri berbunyi “Nogo Mulat Saliro Wani”.

Baca Juga:

4. Kolam Wudhu

Kolam Wudhu adalah tempat wudhu yang terletak di samping depan masjid. Tempat wudlu ini berbentuk kolam, orang Jawa menyebutnya kolah. Pada masa dulu tempat wudhu pada umumnya didesain bukan pancuran, tetapi nyawuk (mengambil air dengan dua telapak tangan). Karenanya tempat wudhu ini harus luas dan dalam agar terjaga fungsinya sebagai air suci yang menyucikan. Kolam wudhu di Madjid Agung Demak sendiri berukuran 10×25 meter. Di dalamnya terdapat tiga batu dengan ukuran yang berbeda.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.

Baca Juga: Menyingkap Arsitektur Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Sebuah Proses Akulturasi Budaya Jawa dan Islam


Legend