Nasib Petani yang Miris di Negara Agraris

Mengulik nasib petani di balik lahan


0

Tani layak untuk dikatakan sebagai salah satu pekerjaan yang mulia. Tani adalah pekerjaan yang sepatutnya tinggi stratanya dalam kehidupan sosial masyarakat sebab sifatnya yang selalu kreatif, inovatif, produktif dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika Aparatur Sipil Negara mogok tidak masalah, jika pedagang mogok tidak masalah, tetapi kalau seluruh petani mogok maka kita semua tidak makan.

Sekali lagi, sektor kreatif dan produktif yang menopang kehidupan manusia adalah pertanian. Tani bisa dikiaskan dengan pekebun, peternak, dan/atau sejenisnya yang menyediakan kebutuhan dasar manusia. Kita semua bisa makan enak dan layak sebab ada petani yang senantiasa menggarap lahan. Lantas bagaimana jadinya jika suatu saat nanti sedikit atau bahkan tidak ada lagi yang mau menjadi petani, coba renungkan.

Penyangga Tatanan Negara Indonesia adalah akronim dari “Petani” yang selalu melekat sejak dahulu kala dan turun temurun diperkenalkan secara istimewa. Istilah “penyangga” bersambung erat dengan “ketahanan” sebab pertanian adalah tulang punggung yang menyangga ketahanan pangan negara. Jika kondisi pangan sebuah negara lemah, maka kehidupan bernegaranya diambang keterpurukan. Masalah pangan adalah masalah krusial dan penting setara dengan kesehatan atau kedaulatan sebab bersinggungan dengan keberlangsungan hidup warga negaranya. Negara akan damai dan aman bilamana kedaulatan terjaga, kesehatan terpenuhi dan pangan tercukupi.

Kita semua tahu bahwa Indonesia dikenal sebagai negara agraris, negara yang perekonomiannya bergantung dan/atau ditopang oleh sektor pertanian. Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah yang dipercaya dapat mendorong perekonomian negeri. Tetapi nyatanya, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 menyatakan dalam kurun waktu hampir 3 dekade terakhir, sumbangan sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menunjukkan pergerakan yang menurun.

Menyandang sebutan negara agraris juga berarti mayoritas penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian. Namun data Kementerian Pertanian mengatakan hal yang berbeda, sebab data total petani di Indonesia saat ini hanya berjumlah 33,4 juta orang dari 270 juta penduduk Indonesia. Fakta yang ada tidak menunjukkan ciri sebagaimana nama yang melekat yaitu negara agraris.

Sumbangan sektor pertanian yang terus menunjukkan angka penurunan, kemerosotan jumlah profesi tani muda bisa dipandang sebagai suatu masalah yang mendesak dan memerlukan tindakan serius. Di samping masalah tersebut, petani juga masih dibayangi oleh stigma negatif yang diwariskan dari generasi ke generasi yaitu anggapan bahwa petani tak menjamin sukses di masa depan. Sebab anggapan ini membuat jera generasi muda untuk turut menekuni profesi seorang petani.

Ada banyak masalah yang tak kunjung rampung di sektor pertanian, sebaliknya justru malah kian bertambah. Dewasa ini musuh petani tak hanya gulma, hama dan cuaca tapi juga tata niaga yang tak adil. Berpihak pada kapitalis sementara petani digilas habis. Bukan lagi hal baru petani mengeluh harga panen jatuh, sementara harga pupuk terus menerus melambung tinggi. Sudah tidak bisa dibayangkan bagaimana sedihnya petani ketika musim panen tiba dan melihat hasil panennya dibawa dengan harga yang tidak seberapa, sedangkan modal yang dikeluarkan bukan main jumlahnya.

Padahal melalui petani kebutuhan pangan rumah tangga hingga bahan baku industri terpenuhi dengan baik. Namun, petani seringkali dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang rumit dan membuat petani merugi. Bukan musiman, justru masalah yang muncul ini awet muncul sepanjang tahun dan menjadi misteri penyelesaiannya hingga saat ini.

Problematika Sektor Pertanian

Indonesia sebagai negara agraris memiliki modal sumber daya alam melimpah, baik dari segi kesuburan tanah hingga air yang mudah dan murah. Sangat disayangkan, di balik fakta tersebut ternyata pertanian di Indonesia masih memiliki berbagai masalah besar dari hulu hingga hilir yang menghambat kemajuan sektor pertanian.

1. Citra Pertanian di Masyarakat

Sudah menjadi hal yang lumrah jika menyangkut petani dikaitkan dengan masyarakat prasejahtera. Stigma bahwa menjadi petani tidak baik bagi masa depan seseorang masih terbangun kokoh dalam pandangan masyarakat Indonesia.

Citra sektor pertanian yang demikian didasari oleh tidak adanya bukti kuat yang mengatakan bahwa profesi tani itu menjanjikan, berbeda dengan ASN, Karyawan Kantoran atau Aparatur Negara lainnya. Bukan berarti semua petani miskin, namun mayoritas kondisi ekonomi petani masih masuk dalam golongan menengah kebawah bahkan prasejahtera.

Penghujung tahun 2021 dimana kesulitan ekonomi yang datang bersamaan dengan adanya COVID 19 berdampak pada pekerjaan di berbagai profesi. Banyak orang kehilangan pekerjaannya dan mulai memutar otak untuk bertahan hidup.

Salah satu profesi yang dilirik untuk bangkit dari keterpurukan tersebut adalah bisnis sektor pertanian, banyak pemuda terjun langsung ke lapangan sebagai petani dan memasarkan hasil panennya secara langsung. Diluar dugaan ternyata hasilnya cukup menjanjikan sehingga mulai menarik minat pemuda untuk menggeluti usaha sektor pertanian. Hal ini menjadi momentum yang bagus untuk bertolak dan membangkitkan sektor pertanian dari krisis yang ada. Sepatutnya pemerintah kejar tayang mendukung pertumbuhan yang memiliki potensial tinggi untuk membalikkan keadaan ini.

2. Krisis Regenerasi Petani Muda

Karena stigma negatif yang sudah mengakar kuat bahwa bertahan hidup pada sektor pertanian sulit untuk sejahtera serta kurang menjanjikan, maka pemuda-pemudi kurang meminati profesi petani. Rendahnya minat untuk terjun pada sektor pertanian ini ditunjukkan oleh statistik BPS dimana 61% petani di Indonesia berusia >45 tahun.

Melihat pergerakan 2 tahun kebelakang, bersamaan dengan krisis ekonomi disebabkan pandemi, krisis ekonomi global dan yang terbaru di tahun 2022 adalah krisis pangan internasional serta prediksi gelap tahun 2023 menjadikan beberapa orang sadar akan potensi dan pentingnya sektor pertanian.

Mulai bertambah satu demi satu pemuda yang terjun menggeluti profesi tani. Meskipun secara jumlah masih sangat jauh dari kata cukup, namun kesadaran akan pentingnya sektor pertanian yang mulai tumbuh sejatinya lebih dari cukup dijadikan landasan untuk mulai berbenah.

3. Rantai Pasok Yang Panjang

Sistem niaga pada rantai pasok peredaran produk pertanian masih sangat panjang. Kondisi ini menciptakan kesenjangan hasil yang diperoleh oleh petani dan distributor atau tengkulak. Kesenjangan pembagian keuntungan inilah petani berada pada pihak yang banyak dirugikan. Hasil yang didapat oleh petani ini tak sebanding dengan modal atau usaha yang sudah dikeluarkan petani. Keuntungan yang tak seberapa, resiko yang tinggi gagal panen disebabkan hama, gulma dan cuaca. Kondisi demikian yang menyebabkan pekerjaan sebagai petani tampaknya tak menjanjikan.

Secara bertahap dimasa yang akan datang, peran pemerintah untuk memutus rantai pasok yang panjang ini perlu diupayakan dengan serius. Sebab momentum yang baik sebagaimana tersebutkan sebelumnya tidak akan bertahan apabila tetap saja tidak ada contoh nyata kesejahteraan dan prospek yang menjanjikan bagi profesi tani.

Mengapa pemerintah? Sebab hanya pemerintah yang memiliki cukup kekuatan untuk melaksanakan suatu kewenangan yang bisa merubah kondisi tertentu di pasar. Pada kenyataannya pergerakan petani sebatas mengikuti arah gerak pasar, sebatas menunggu dan bertahan terhadap harga yang berlaku.

Baca Juga: Membangun Filantropi Santri Mandiri Melalui Hidroponik

4. Teknik Budidaya Kurang Presisi

Sejauh ini penerapan teknik bertani dilakukan berdasarkan naluri dan pengalaman sehingga kurang presisi. Presisi dalam makna budidaya tani dengan teknik yang benar serta teruji dan tepat guna. Misalnya, pemberian pupuk dengan dosis yang tepat, penanganan hama yang benar, pemberantasan gulma yang sesuai ataupun proses pasca panen yang seharusnya dilakukan agar nilai jual produk lebih tinggi. Selain itu, benih yang digunakan sebagai bahan tanam bukanlah benih bersertifikat.

Hadirnya sarjana pertanian dan kolaborasi serius dari pemerintah terkait, utamanya dinas pertanian untuk mulai memberikan contoh, penyuluhan, pendampingan dan pembinaan kepada jalannya metode pertanian yang digunakan masyarakat tani sangat dibutuhkan.

5. Kebijakan Yang Alot

Pada praktiknya terkadang petani dihadapkan pada penerapan sistem oleh pemerintah yang justru menyulitkan petani. Kebijakan-kebijakan tertentu cenderung tidak bisa diaplikasikan oleh sebagian besar petani yang masih awam pada administrasi. Sebagai contoh kebijakan pembatasan pupuk bersubsidi, secara umum bertujuan agar stok pupuk mencukupi kebutuhan dan tepat sasaran. Namun, pada nyatanya membuat petani kesulitan mendapatkan jatahnya baik dari segi waktu tunggu giliran atau memang tidak berhasil mendapat bagian. Di beberapa kasus terdapat petani yang enggan mengurus sebab sistem administrasi dipandang terlalu rumit dan kurangnya peran pendamping untuk membantu memenuhi kendala tersebut.

Di lapangan, kondisi demikian tak jarang dimanfaatkan oknum nakal untuk mempermainkan harga pupuk dan ketersediaannya. Harga pupuk yang sudah mahal malah berkali-kali lipat lebih mahal lagi ketika sampai di tangan petani. Disamping mahal, ketersediaannya langka dan proses mendapatkannya juga rumit. Bagi petani yang sudah terlanjur bergantung pada pupuk dengan adanya kebijakan alot malah menambah daftar masalah yang dihadapi petani.

Demikian ulasan tentang “Nasib Petani Yang Miris di Negara Agraris” yang menjadi lika-liku kesulitan petani di Indonesia. Disamping masalah alam petani juga dirundung kesulitan dalam perniagaan. Petani yang semestinya cukup sejahtera hidupnya justru diambang keterpurukan dan paling susah menyambung hidup.

Ironisnya petani yang bekerja menyediakan kebutuhan pangan justru kesulitan mencari makan. Sepanjang tahun dalam proses menghidupi lahan dan menyediakan pangan, seringkali memanen nasib yang tidak adil.

Sudah semestinya profesi tani dibantu untuk bangkit dan dihargai dengan nilai yang sepadan dengan perannya. Dimulai dari prioritas kesejahteraan bagi para petani. Petani berdaya, pangan sentosa.

Baca Juga: Inovasi Produk Berbasis Ekstrak Daun Ketepeng Cina Sebagai Gel Antipruritik


Like it? Share with your friends!

0

Novice

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *