Kami Bersama Kalian Saudaraku

7.8 Skala Richter, mampu memporak-porandakan negara kaya, tujuan para wisata dunia, bahkan menjalar ke negara tetangganya


Dua hari sebelumnya, seseorang mengatakan bahwa akan ada pergerakan, tapi kita terlalu abai karena terlalu lelap dalam gempita.

Malam hari menjelang esok, perilaku burung-burung terbang dengan aneh, itu juga abai dari perhatian kita.

Pagi hari tiba, aktivitas berjalan seperti biasanya, tak ada firasat, tak juga ada tanda-tanda.

Namun kemudian, tiba-tiba suara gemuruh mengerikan terdengar menjelang sore hari yang indah di kota itu.

Semua orang nyaris tak dapat berpikir, dan memaksa mereka untuk diam, serta beranjak mencari jalan keluar.

Getaran hebat membuat mereka berlarian ke tempat aman untuk melindungi diri dari guncangan yang amat dahsyat.

Gedung-gedung bergoyang hebat, membuat mereka panik berhamburan, menyelamatkan diri.

Selama kurang lebih satu menit lamanya, tanah subur dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit itu dihantam guncangan.

7.8 Skala Richter, mampu memporak-porandakan negara kaya, tujuan para wisata dunia, bahkan menjalar ke negara tetangganya.

Jerit tangis para ibu, memeluk anak-anaknya, mengiris hati yang tengah hampa.

Para ayah berlarian mencari tempat perlindungan paling aman untuk keluarga mereka.

Jeritan lainnya terdengar lebih pilu, menyaksikan sanak saudara mereka terjebak di gedung tinggi yang roboh, menyatu dengan tanah.

Suasana mencekam, membuat riak sakit dalam hati mulai menempa tubuh yang tidak siap diuji.

Aku yang menyaksikan dari kejauhan, sungguh merasa sakit.

Gedung-gedung hancur, jalan-jalan terbelah menjadi kepingan yang terlihat tidak nyata, ditambah dengan iringan tangisan langit yang mengguyur pada sore itu.

Aku terkulai lemah, melihat kota indah, seketika diselimuti debu pasca runtuhnya pertahanan mereka.

Terkabarkan ribuan saudara kita telah melepas panji kekuasaan mereka di dunia, bertemu lebih dulu dengan sang Maha Kuasa.

Diri ini bergetar hebat, melihat saudara kita terjebak dalam reruntuhan dan kesakitan.

Hati ini hancur, melihat saudara kecil kita harus terlepas dari gendongan ibundanya.

Baru saja aku tenang dari kabar di dalam negeri tercintaku ini, sekarang harus kembali cemas dan hancur dengan kabar dari saudara jauh kita di sana.

Untunglah semua pihak bertindak cepat, mereka berbondong-bondong meringankan beban berat sanak saudara kita yang di sana.

Meleburkan semua rasa marah, yang sempat mereka terima dari banyak pihak.

Tapi, mari coba memetik hikmat, semoga dengan ini menjadi ajang terbaik untuk mempersatukan hati kita.

Doaku untukmu, saudaraku.

Sama seperti kejadian tempo hari di negeriku, aku pun hanya bisa mengirimkan doa dan simpati dengan tulisan.

Aku takut, aku diam diri, merenung dan bertasbih kepada-Nya.

Memohon keselamatan, juga kelancaran untuk setiap proses evakuasi dan pemulihannya.

Aku berlutut di sini, meminta kemurahan hati dari sang Maha Pemurah, agar kita senantiasa diberi keikhlasan.

Aku berdoa di sini, semoga kejadian besar ini menjadi pupuk untuk mencengkeram kembali iman yang dulu pernah goyah.

Aku berdoa di sini, semoga mereka yang berpulang dapat tempat paling indah di sisi-Nya.

Aku berdoa di sini, semoga mereka yang masih terjebak diberi jalan terang agar segera ditemukan.

Aku bersimpuh di sini, meminta pertolongan dari sang Maha Pemurah, agar kita senantiasa diberi kesabaran.

Kami bersamamu, saudaraku.

Maafkan semua perangai kami, yang mungkin ikut andil dari semua sebab atas semua akibat ini.

Kami bersamamu, saudaraku.

Tetaplah bertahan dan yakinlah pertolongan-Nya pasti datang.

“Ya Allah, aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi dan keburukan atas apa yang  terjadi di dalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan.” (HR An Nasa’i)

Turut berbelasungkawa dari hatiku yang paling terdalam.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un.

Baca Juga: Refleksi Umat Islam dalam Tragedi Kanjuruhan

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *