Emma Bersama Ayah

Aku akan selalu menyimpan memori ini di hatiku dan ayah menginginkanku bisa merasakan rasa bersyukur yang mendalam.


Ting!… Ting!… Ting! Suara sendok terbentur gelas terdengar di halaman rumah. Saking legangnya, suara ayah mengaduk kopi terdengar ke kamarku. Ya memang kamarku sebelahan dengan halaman rumah.

Aku membuka mata walau mata ini susah untuk terbuka, aku melihat gorden dan jendela juga terbuka. Aku mendesah malas, menarik selimut kedinginan.

Kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat. Tidak lama duduk di kasurku, tepat di sampingku. Aku merasakan itu.

“Kak, ayo bangun katanya ayah mau ajak kita main” bisik ibu sembari mengusap punggungku yang sedang tengkurap.

“Hmm” gumamku, kemudian berusaha membangunkan diri lebih sadar, “main ke mana bu, kenapa ga istirahat di rumah aja” ucapku lesu dengan mata belum sepenuhnya terbuka.

“Gatau ayah, emang kamu kecapean?” tanya ibu tidak berhenti mengusap punggungku.

“Ga terlalu sih” aku diam sebentar, “yaudah deh aku mandi” jawabku duduk dari tidur, mengucek wajah agar lebih segar.

“Okay, ibu keluar ya” ucap ibu sembari berjalan keluar dari kamar dan tidak lupa menutup pintu kamar.

Aku bergegas mandi sekaligus memakai baju. Kali ini suasana rumah tidak lengang lagi, ada suara televisi, burung di luar rumah dah hiruk pauk kehidupan lainnya.

Oh iya kita belum kenalan, hai nama aku Emma, umur aku baru 8 tahun, aku anak tunggal, tidak kesepian karena ayah dan ibu selalu menjadi teman saat aku berada di rumah.

Aku senang dengan mereka, semua hal aku bisa ceritakan kepada mereka, tanggapannya juga beda-beda kadang menasehati, mengomeli bahkan ceritaku bisa di jadikan bercandaan yang lucu oleh mereka, terutama ayah.

Saat aku sedang mengaca mencari baju yang aku sukai tiba-tiba ketukan pintu kamar terdengar. Aku melirik segera membuka. Itu ayah.

“Loh udah bangun?” tanya ayah sembari memegang mug tehnya.

Ayah adalah teman laki-laki pertamaku. Secara tidak sadar aku mencari teman laki laki yang baik itu patokannya seperti sifat ayah. Sifat yang menghibur, sangat suka mengobrol dan juga pendengar yang baik.

Ibu juga suka dengan sifat ayah yang bisa menjadi pendengar yang baik, ibu bilang itu terpakai saat mereka berdua sedikit berdebat, ayah bisa menjadi diam mendengarkan keluh kesah ibu.

“Udah dong, kan katanya mau pergi” jawabku kembali menatap cermin.

“Oh, kirain ga mau” goda ayah membalikan langkahnya menuju ruang tamu, kemudian tertawa kecil.

“Iya tadi dia udah ngeluh” sahut ibu sembari memasukan beberapa makanan ke tas.

Aku berjalan menuju ruang tamu, “kebiasaan sih ayah, suka dadakan”

“Kan ayah udah bilang kerjaan ayah ga menentu, makannya kalau ayah liat kamu sama ibu santai, ayo kita main keluar” jawab ayah sembari menyeruput teh hangatnya duduk di ruang tamu.

Jawaban itu selalu ayah lontarkan, tapi sebenarnya juga aku sudah tahu, aku ngerti soalnya, ayah sibuk banget jadi kalau ada waktu luang aku coba untuk mengusahakan kalau ayah ajak main, ya walaupun sedikit kesal.

Kemudian aku tertawa kecil, “iya yah… aku bercanda”

“Kak udah siap?” tanya ibu yang selesai memasukan makanan kedalam tas.

Aku mengangguk, “ga usah bawa baju yang banyak kan?”

Ibu mengangguk. Ayah menimpali, “ya kalau kamu mau pindah bawa yang banyak”

Ibu meletuskan bibirnya, tertawa mendengar ucapan ayah.

“Duh cape deh” ucapku mengabaikan lelucon ayah yang garing itu, sembari berjalan ke kamar mengambil ponsel.

***

Kami sudah di mobil sejak tadi, barang barang sudah di masukan ke dalam bagasi dengan rapi, aku duduk di belakang, ayah menyupir dan ibu duduk di samping ayah.

Aku baru tau ternyata kami akan menginap di hotel di bandung, tapi kata ayah hotelnya berbeda, aku tidak tahu, liat saja nanti.

Aku memainkan ponsel sembari memakan cemilan di sampingku. Ibu juga memainkan ponselnya, ayah tetap menyupir.

“Kalian kenapa main ponsel semua” tanya ayah melirikku lewat spion tengah. Aku melirikan mataku.

“Aku bosan” jawabku kembali memakan cemilan.

“Aku juga” jawab ibu tidak melirik.

“Ih aku” goda ayah sembari menggelitik ibu sembari tertawa.

“Kita mau ke mana sih yah?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Oh” ayah melirik, “kita mau ke hotel”

“Kenapa ke bandung?” tanya aku lagi.

“Ga apa apa dong, kamu ke beratan?” tanya ayah melirik di spion tengah lagi.

Aku menggeleng, “ga sama sekali yah, tapi” aku diam sebentar, “aku mau tanya, tapi ayah jangan tersinggung” aku menyengir menyimpan ponselku.

“Ayah ga bakal tersinggung, tanya aja” jawab ayah ikut tersenyum juga.

“Kenapa ayah selalu ngajak kita main dadakan? yaa kita tau ayah sibuk banget, tapi emang ayah ga ada libur?” tanyaku sedikit bersalah, tersenyum kaku.

Ayah tertawa pelan kemudian memperbaiki posisi duduknya agar nyaman, “kamu tau ga ayah kerja apa?”

Aku menggeleng, sedikit kebingungan, “bisnis?” tebakku.

Ayah mengangguk, “benar, tapi kamu tau gimana kerjanya?”

Aku menggeleng lagi, hal ini aku benar-benar tidak tahu.

“Jadi, Ayah itu kerjanya buka bisnis, ada beberapa bisnis yang ayah kerjakan dalam waktu yang berdekatan, maka dari itu ayah kesusahan untuk mengatur waktu yang tepat untuk kalian” jawab ayah menjelaskan.

“Emang bisnisnya apa yah?” tanyaku penasaran.

“Ayah buat beberapa bisnis makanan cepat saji di Jakarta, sebenarnya ada 2 yang bukan kelola secara personal tapi itu franchise, kamu akan tau itu nanti. Lalu satunya baru ayah yang ngerjain sendiri dengan beberapa anggota lainnya” jawab ayah menjelaskan dengan lumayan rinci.

“Kapan ayah mulai bisnis itu?” tanyaku lagi.

“Pastinya sebelum ayah menikah” jawab lagi ayah.

“Kenapa harus sebelum menikah, kenapa ga mendirikan bisnisnya barengan sama ibu?” tanya lagi aku.

“Ga semudah itu Emma, banyak sekali yang harus di pertimbangkan sebelum menikah dengan ibu kamu. Ayah yakin membuka bisnis dari sebelum menikah itu, akan mempermudah masalah nantinya” jawab ayah dengan sedikit serius.

Aku mengangguk sedikit mengerti, “Apa semua orang tua harus memiliki bisnis?” tanya aku.

“Engga dong banyak pekerjaan yang bisa di pilih dan di sukai untuk di kerjain” jawab ayah.

Aku mengangguk mengerti, “tapi kenapa ibu ga kerja?” tanya lagi aku dengan penasaran, juga sedikit ragu, melirik ke arah ibu.

Ibu melirik kebelakang, tersenyum, “ibu yang jawab ya, semuanya pilihan sih ini, dulu waktu ibu sama ayah baru menikah kita berdua sepakat untuk ibu yang jaga kamu dan rumah, iya kan yah?” Ibu melirik ke ayah.

“Benar” jawab ayah dengan tepat.

Aku kembali mengangguk, mengerti.

“Sekarang ibu yang tanya, boleh ya” ucap ibu kembali melirik ke belakang.

Aku terkejut, menatap kedepan, berusaha memperhatikan gerak bibir ibu agar bisa mengetahui pertanyaanya duluan dan menyiapkan jawabannya.

“Kamu gimana di sekolah?” tanya ibu menatapku.

“Euh” aku terkejut, “um… Biasa aja bu, emang kenapa?” tanyaku balik. Sebenarnya aku kesusahan untuk menjawab, banyak hal yang terjadi di sekolah menengah, berbeda sekali waktu sekolah dasar.

“Teman-temannya gimana, kamu udah punya teman?” tanya ibu lagi.

Aku mengangguk, “udah bu, tapi belum dekat”

Ibu ikut mengangguk, “semuanya aman kan? Emma, kamu kan sekarang udah remaja, nah jadi pasti banyak hal yang kamu lakukan di sekolah tapi ingat, semunya ada resikonya, hati-hati dan, jangan lupa, ibu sama ayah siap dengerin kamu cerita kalau kamu lagi pusing sama sekolah kamu”

Aku mengangguk mengerti.

“Kamu udah punya pacar?” tanya ayah dengan spontan melirik di spion tengah.

Aku membesarkan bola mata, terdiam kaku, segera menggeleng cepat, “belum ayah, kenapa nanya begitu?”

“Ya ga apa-apa, siapa tau kan” jawab ayah tertawa kecil.

“Aku malu yah kalau di tanya gitu” lanjutku memasang wajah masam perlahan memerah.

“Iya ya kak, aneh sih ayah” seru ibu sembari memukul manja pundak ayah.

Ayah tersenyum, “Eh kak ayah ada hadiah, coba liat di saku belakang jok ayah” ucap ayah berusaha mengalihkan.

Ibu melirik ke belakang, ingin tahu.

“Aaa! Permen lolipop!” seru ku mengangkat permennya.

“Suka kak?” seru ayah.

“Yaa!” seruku.

“Ya ayah kenapa dikasih permen terus” omel ibu tidak setuju dengan hadiah itu.

“Ga apa apa dong kan kita lagi liburan, iya ga kak?” tanya ayah mengangkat kedua alisnya tersenyum lebar.

Aku mengangguk cepat, sangat setuju, aku benar-benar senang.

Ibu menghela napas pasrah.

***

Kami tidak tersadar terlelap di kursi mobil kecuali ayah tetap menyupir setelah kami memakan permen tadi.

Saat sudah masuk ke wilayah bandung hujan membungkus wilayahnya, angin di luar terasa dingin, aku menggesekan kedua kakiku agar terasa hangat. Kaca mobil perlahan di lapisi oleh embun angin bandung.

Ayah melaju mobil melewati tempat di bandung yang terlihat kumuh dan sedang banjir, tempat ini tidak pernah kami lewati. Aku mulai membuka mata menyadari.

“Kok lewat sini?” tanya ibu yang juga terbangun.

“Ga apa-apa sambil jalan-jalan aja” jawab ayah yang tersenyum menyadari ibu dan aku sudah terbangun.

Aku merubah posisi duduk, menatap ke kaca, hujan sudah mulai reda, embun di kaca mulai menghilang. Aku memperhatikan beberapa rumah yang kurang layak untuk di tepati, berjejer di pinggir jalan.

“Iya yah kenapa lewat sini, ga biasanya?” tanyaku masih menatap ke luar jendela.

“kamu liat rumah-rumah di luar sana?” tanya balik ayah menatapku lewat spion tengah.

Aku mengangguk, “kenapa?”

“Perhatikan orang orang itu dan rumahnya, gimana menurut kamu?” tanya ayah.

Aku mengerutkan dahi, memperhatikan orang-orang yang beraktifitas dan rumah-rumah yang sedikit terendam banjir.

Aku menggeleng perlahan, tidak tega aku mengucapkan yang aku lihat saat ini.

“Tak apa, sebutkan saja” lanjut ayah.

“Um… kumuh dan rumah yang tidak layak untuk di tinggal” jawabku, sedikit merasa bersalah tapi ga apa-apa.

Ayah mengangguk kemudian tersenyum kecil, “itu lah kenapa ayah bawa kamu ke sini, biar kamu bisa lebih bersyukur bisa hidup seperti ini. Lihat”

Aku memperbaiki posisi duduk, menyadari ayah sedang bicara serius. Kemudian menatap ke spion, secara tidak langsung kami saling bertatapan. Aku mengangguk, melihat kembali ke luar jendela.

“Maka dari itu kita harus sadar saat kita mempunyai hal yang lebih, agar apa, agar kita sadar membantu mereka yang kesusahan” lanjut ayah.

Aku kembali mengangguk, “iya ayah, aku pasti bantu orang sekitar”

Ayah mengangguk tersenyum, “ayah senang kalau mengerti”

Ibu membalikan badan, menatapku, menjulurkan tangan, meraih jemariku kemudian dia usap dengan perlahan, wajahnya terlihat tersenyum terharu. Aku membalas senyuman itu.

***

Mobil terus melaju, kini jalanan untuk menuju hotel ini naik menanjak ke atas, rasa takutku mulai menjalar keseluruh tubuh, karena jalanan menanjak dan basah sekaligus, tapi hujan sudah mulai reda.

Tidak lama mereka sampai di kawasan penginapan. Jarak dari tempat parkir ke lobby hotel lumayan jauh, maka kami harus turun dan berjalan.

Aku baru tahu ternyata ayah membawa kami ke hotel dengan konsep yang baru, seperti berkemah di tengah hutan.

Konsep hotel ini benar-benar beda dengan hotel lain, gimana tidak, hotel ini benar-benar di alam terbuka, lobby hotel dengan kamarnya juga berjauhan, kami harus berjalan lagi sedikit setelah dari lobby hotel ke kamar yang kami pesan.

“dingin banget” bisikku memeluk tubuh lalu mengusap-usap kedua tangan, agar lebih hangat.

Ibu mendekat, memeluk sembari mengusap usap pundakku. Ayah masih mengurus check in kamar kita, tidak lama ayah selesai. Kami berjalan menuju kamar yang kami pesan.

Konsep kamarnya beda dengan hotel lainnya, kamarnya terlihat seperti rumah, juga dari kamar 1 ke kamar selanjutnya saling berjarak jadi benar-benar seperti di perumahan tapi dengan suasana hutan.

Kami segera masuk kedalam salah satu kamar, ayah segera membuka kunci pintu dan duluan masuk, aku dan ibu mengikuti dari belakang.

“Wah” ucapku menatap isi kamar yang benar-benar cantik, di ujung kamar terdapat kaca yang besar itu untuk melihat pemandangan keluar, kaca itu di selimuti oleh embun. Jika malam bisa kamu tutup dengan menekan tombol.

“Sini” pinta ibu mengambil tas gendong aku kemudian di simpan di tempatnya.

Aku masih terpaku memandangi furnitur di dalam kamar. Konsepnya di kamarnya sangat rapi tidak banyak furnitur yang mereka pakai namun warna dengan barang menyatu menjadi indah.

Aku berjalan kecil menuju jendela besar itu, naik ke atas kasur tidak sadar, terus memandang pemandangan di luar.

“Jadi kita mau ke mana habis dari sini?” tanyaku tanpa melirik.

“ke sesuatu tempat” jawab ayah di belakangku.

“Ke mana?” tanya ibu melirik ayah yang berada tepat di sampingnya.

Ayah melirik, tersenyum, “rahasia” jawabnya.

“Jangan dadakan dong yah” lirih ibu melemaskan pundaknya.

Ayah tertawa kecil, “ini kan ayah udah kasih tau, kita bakal ke tempat yang mengasyikan”

“Di lingkungan ini?” tanya lagi aku, sekarang melirik ke belakang.

Ayah menggeleng, “di bawah, kita akan ke pasar malam”

“Waw!” seruku membuka mulut lebar-lebar.

Tidak disangka rintikan hujan terlihat dari balik jendela besar itu. Aku melirik ke belakang, juga ayah dan ibu menatap jendela, mereka memastikan itu tidak hujan sungguhan.

Aku melemaskan badanku, itu beneran hujan. Pupus lah hari liburanku untuk pergi ke pasar malam, malam ini.

Ayah juga melemaskan pundaknya, menatap jendela lebar itu yang sedang di guyur hujan.

“Yaudah di sini saja, kita pesan paket bakar-bakar daging saja” ucap ibu berusaha mengalihkan rasa sedih tadi.

“Yah bu, aku kan pingin liat pasar malem” jawabku membalikan badan, wajah muram tidak ku hapus.

Ayah tidak menanggapi, tetap menatap jendela yang dibungkus oleh rintikan hujan.

“Di sinis aja lah, kita buka pintunya lihat pemandangan ke luar sambil bakar-bakar daging” lanjut ibu berusaha merayuku.

Kali ini ayah melirik, masuk dalam obrolanku dan ibu, “duh maaf ya kak, kayanya bener kita di sini saja bakar-bakar daging”

Aku pasrah tidak bisa apa-apa. Aku mengangguk setuju. Ibu tersenyum lebar. Akhirnya ibu segera menelpon resepsionis untuk memesan paket bbq yang nanti akan di antar ke kamar.

Tidak lama alat bakar-bakar dan juga bahan, daging lainnya datang ke kamar, beberapa orang pelayan membantu memasangkan alat masak sampai siap pakai.

Kita bertiga duduk di bawah dengan di alasi bantal untuk duduk. Kami memulai membakar daging juga beberapa makanan kecil lainnya. Pintu depan di buka selebar mungkin, tiupan angin dan rasa hangat dengan kompor menjadi satu.

“Maaf ya kak” ucap ayah melirik ke arahku.

aku tersenyum sembari menyimpan daging ke atas pembakaran, “di luar kan hujan yah, ga apa-apa, ini juga seru kok yah”

Ayah mengacak-acak rambutku, tersenyum. Kami fokus memanggang daging dan memakan makanan yang sudah siap untuk dimakan.

Beberapa menit kami menikmati bakar-bakar daging ini dan pemandangan hujan rintik di luar sana, akhirnya kami dapat menikmati kebersamaan ini hanya di dalam kamar.

Tiba tiba ayah menegakan badannya sekaligus, pergerakannya terhenti, pandangannya terlihat sedang menahan sesuatu.

Aku dan ibu menyadari, terhenti memanggang daging.

“Kenapa yah?” seru ibu terkejut.

Ayah mengatur nafasnya, aku yang sudah cemas, segera melepaskan sumpit dan menenangkan ayah.

Ibu beranjak berdiri mendekat.

“Yah..” Lirih ibu di sampingnya.

“Napas ayah sak… it…” Lirihnya lagi.

Mendengar itu dadaku sangat terpukul. Kenapa ini, ada apa dengan ayah, apa yang harus aku lakukan.

“Emma cepat telfon resepsionis! Minta bantuan” seru ibu tanpa melirik hanya menunjuk telfon yang ada di samping kasur.

Aku segera lompat dan mengambil gagang telpon itu, tidak butuh lama aku langsung menekan nomer yang sudah tercatat di samping telponnya.

***

Waktu begitu cepat. Ayah sudah berbaring terlentang di kasur, dengan berbagai alat medis di pinggir kasur. Pelayan hotel sudah kembali ke kantornya beberapa menit yang lalu.

Ibu di samping ayah mengayomi dan aku duduk di bersender di dinding kasur menghadap ke pintu depan. Kami melamun mengingat kejadian tadi, kami terkejut. Ayah mengusap-usap rambutku.

“Yah” lirih ibu dengan suara lembutnya.

Ayah melirik lalu tersenyum.

“Ayah kaya tadi baru pertama kali atau sebelum-sebelumnya udah pernah?” tanya ibu.

Ayah menggeleng, “belum, baru pertama kali”

“Tadi ayah bikin kaget” ucapku tanpa melirik.

Ayah melirik mengusap kembali rambutku.

“Ayah juga gak tau kenapa kaya tadi, ayah juga kaget” ucapnya sembari tertawa kecil.

Kali ini benar-benar di luar kendali, setelah kami batal keluar untuk main di pasar malam karena hujan sekarang acara bakar-bakar daging juga teralihkan.

Tapi aku sempat bersyukur, bagaimana kalau ayah sakit seperti tadi tapi di pasar malam yang banyak orang dan tidak kondusif, aku menghela napas, terima kasih hujan.

“Untung kita ga ke pasar malam” bisikku.

Ayah tersenyum.

“Kita pulang dari sini ke rumah sakit ya, buat cek penyakitnya” ucap ibu raut wajahnya masih sedih.

Ayah mengangguk.

“Tapi ayah seneng di sini bisa bareng Emma dan ibu, akhirnya ada sesuatu yang memberikan isyarat untuk ini, Emma” ucap ayah melirik ke arahku. “Ini yang ayah maksud, selama ini, selagi kita semua sehat dan keadaan mendukung untuk kita menikmati kebersamaan, kenapa tidak, tapi mungkin kemarin-kemarin Emma belum mengerti maksudnya”

“Aku ngerti sekarang ayah, maksudnya. Aku akan menyempatkan waktu selagi aku bisa ikut. Aku akan menikmati momen ini sebaik mungkin” potong aku membalikan badan, menatap ayah.

Ayah tersenyum lebar, kemudian melirik ibu, “ibu juga mengerti sekarang?”

Ibu mengangguk terharu.

Aku mengerti apa yang di rencanakan ayah selama ini. Seperti tadi, saat kita pergi ke sini ayah memutar jalan ke jalan yang tidak biasa kami lewati, itu ayah ingin memperlihatkan aku rumah yang kebanjiran dan hidup yang kurang layak, ayah ingin aku bisa merasakan rasa bersyukur yang mendalam.

Rasa bersyukur lainnya yang aku syukiri adalah ayah selalu mengajak aku dan ibu untuk liburan kecil, tidak lama sih tapi memori ini sangat menumpuk di kelapaku, aku akan selalu menyimpan memori ini di hatiku.

Aku segera memeluk ayah, ibu juga mengikuti.

Selesai, -Emma AU dari Yuju Gfriend.

Baca Juga: Secercah Harapan di Ujung Keputusasaan

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Explorer

28 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  1. Saya senang melihat pesan dari cerita ini yang mana kita harus mensyukuri saat-saat dan masa-masa yang bisa kita habiskan dengan orang-orang yang kita sayangi. Dalam hal ini orangtua kita. Ceritanya keren Kak…

    1. Ceritanya bagus banget 🥺
      Setiap katanya mudah dipahami dan maknanya nyampe banget ke yang baca. Semangat terus ya nulisnyaaa ❤️