Ayah dan Ultraman

Pahlawan itu ayahnya, tidak sekuat Ultraman tapi ayahnya cocok jadi salah satu Ultraman baginya.


Saat kecil Rena paling suka sama karakter pahlawan, dan Ultraman jadi salah satu karakter favoritnya pada saat itu. Baginya Ultraman adalah pahlawan paling kuat karena ia bisa berubah jadi raksasa, kedua matanya selalu berbinar-binar setiap melihat Ultraman melawan musuhnya di televisi. Selain Ultraman, Rena juga punya pahlawan nyata kesayangannya, memang sih pahlawan itu tidak memiliki kekuatan yang sama seperti Ultraman, tapi ia punya senyum yang hangat sekali dan nilai plusnya dari pahlawan tersebut adalah; ia tahu Rena dan sayang sekali padanya.

Pahlawan itu ayahnya, tidak sekuat Ultraman tapi ayahnya cocok jadi salah satu Ultraman baginya. Ayahnya setiap pulang selalu membawa makanan favoritnya, mengajaknya naik becak untuk menelusuri Malang di malam hari, setiap malam ayahnya tidak pernah absen untuk menceritakan kisah kandang ayam untuknya, dulu ia sangat takut tiap mendengar kisah itu, lucu rasanya karena saat beranjak dewasa ia menyadari bahwa semua kisah itu bohongan dan tidak menyeramkan sama sekali.

Ah, Rena rindu sekali

Mengingat semua kenangan indah itu bersama ayahnya, membuat Rena tanpa sadar meneteskan air mata. Ultraman yang ia sayang sudah pergi jauh sejak beberapa tahun lalu, setiap ia membeli makanan favoritnya rasa rindu itu akan muncul, begitupun setiap kali ia mendongengkan kandang ayam untuk ponakan-ponakannya. Senyum hangat dan tawanya yang menggelegar seketika muncul di benaknya, Rena rindu tapi ia hanya dapat mengirimkan doa dan mengunjungi makamnya, terkadang ia hanya dapat memutar video-video bersama ayahnya dan menatap sendu pada nama kontak ayahnya di ponsel miliknya. Ultraman, ia namakan kontak nomor telpon ayahnya dengan nama pahlawan terkenal itu.

“Kamu ada-ada aja.” Itu adalah respon ayahnya saat ia menunjukkan nama kontaknya pada sang ayah, ia mengucapkannya sambil tertawa hingga memperlihatkan kerutan di sekitar matanya. Pada saat itu Rena juga tertawa, tapi ia menyesal karena tidak pernah mengatakan yang sejujurnya mengenai alasannya menamakan kontak ayahnya sebagai Ultraman, ia ingin ayahnya tahu bahwa ia adalah pria yang begitu ia sayang dan cintai, ia ingin ayahnya tahu bahwa beliau merupakan salah satu orang yang membuat masa kecilnya menyenangkan.

Bila waktu dapat diputar, Rena ingin mengatakan semua itu pada ayahnya, ia tidak ingin ayahnya meninggal dengan anggapan bahwa Rena tidak menyayanginya. Kematian mendadak ayahnya membuat Rena dan kakaknya tidak mampu mengucapkan perpisahan terakhir pada sang ayah, semua terjadi begitu cepat lalu ayahnya sudah meninggalkan dirinya.

Hati Rena hancur sekali

Setiap malam ia selalu berharap ayahnya agar muncul di mimpinya, tidak peduli hanya muncul sedetik, setidaknya ia dapat melihat kembali senyum hangat itu. Tapi setiap harapannya terkabul, di pagi hari rasa rindu dan sedihnya justru semakin terasa menyesakkan, ia semakin merindukan ayahnya karena mimpi-mimpi yang muncul di tidurnya terasa begitu nyata. Salah satu mimpi yang terasa menyakitkan baginya adalah; ketika ayahnya mengundang ke rumahnya, ia masuk ke dalam rumah itu dan ayahnya mengajaknya untuk mengelilingi rumah tersebut.

“Rumah baru bapak bagus, kan?” Kalimat yang ayahnya ucapkan di mimpi membuatnya menangis saat terbangun, ucapan sang ayah seakan menunjukkan bahwa mereka sudah berpisah untuk selama-lamanya, menjadi pengingat untuk Rena bahwa yang ia alami bersama ayahnya adalah mimpi belaka, ketika ia membuka matanya semua pertemuan itu mulai lenyap dan kenyataan pahit menyambutnya.

Menyedihkan 

Rena iri melihat teman-temannya yang masih dapat melihat senyum ayah mereka, dapat berdiskusi berbagai macam topik dan bersenda gurau bersama sang ayah. Rena merasa apa yang terjadi padanya tidak adil, ia hanya dapat menemui ayahnya di pemakaman umum dan di dalam mimpinya, tanpa raga yang nyata, ia hanya mampu curhat satu arah bersama ayahnya, tidak akan ada respon atau tawa yang mengiringi tiap kata yang ia ucapkan. Rena juga ingin bercengkrama lagi dengan ayahnya, menyanyi bersama ayahnya seperti dulu, atau membahas kisah kandang ayam yang menjadi kisah favoritnya dulu, mengapa kuntilanak selalu menghampirinya dengan tiba-tiba setiap ayahnya mengambil telur di kandang ayam, Rena ingin tahu jawabannya, hanya ayahnya yang tahu.

“Mungkin karena ada pohon nangka di deket kandang ayamnya.” Adiknya pernah menjawab seperti itu, namun Rena tidak puas dengan jawabannya. Ayahnya adalah satu orang yang jalan pikirannya tidak dapat ia tebak, jadi ia yakin pasti jawabannya berbeda dengan jawaban adiknya. Seperti salah satu kisah fiktif yang pernah sang ayah ceritakan pada Rena dan adiknya saat menjelang tidur, di mana ayahnya pernah bertemu dengan tentara Jepang dan tentara tersebut menyanyikan lagu tentara Jepang pada ayahnya. Rena dan adiknya selalu tertawa setiap membicarakan hal tersebut, bagaimana tidak? Lirik lagu tersebut benar-benar aneh dan sama sekali tidak ada unsur bahasa Jepang di sana.

“Yamato danshito umarenaba

sampe cino yamato ceret

bandano sakura kaero-ero

yawaya shinoni arushibuku.” 

Saat Rena mengenal internet, ia langsung mencari lagu itu namun hasilnya nihil. Ayahnya kembali mengarang sesuatu untuk menghibur ia dan adiknya, dan Rena sama sekali tidak marah atau merasa tertipu, baginya lagu itu menjadi salah satu pengingat bahwa ayahnya benar-benar menyayangi dirinya dan adiknya, lagu itu juga menjadi bahan candaan bersama adiknya, setiap mereka merindukan sang ayah maka topik itu akan muncul. Mungkin di masa depan nanti, ketika ia sudah bersuami dan memiliki anak, ia akan menceritakan kisah-kisah yang didongengkan ayahnya, termasuk tentara Jepang dan lagunya, selain itu Rena juga ingin anak-anaknya kelak masih dapat merasakan kehadiran kakek mereka, bukan dengan raganya melainkan kisah-kisahnya.

Rena juga tidak sabar untuk menceritakan kisah ayahnya saat bertugas di salah satu Istana milik presiden, di mana ayahnya mengaku bahwa ia sering melihat mendiang presiden Indonesia tengah berjalan di sekitar taman atau tengah menikmati segelas kopi di beranda. Ia tidak tahu anaknya akan memberikan reaksi seperti apa, mungkin ketakutan atau mungkin merasa kisah yang ia ceritakan adalah kisah yang bodoh. Tetapi, setidaknya mereka akan mampu mengenal kakek mereka, menurutnya foto dan video saja tidak cukup bagi anak-anaknya untuk mengenal siapa kakek mereka, siapa itu Ultraman bagi ibunya.

Namun untuk saat ini, perjalanannya masih panjang dan rasa rindu itu belum mampu ia atasi. Rena hingga kini masih mencoba untuk bangkit dan melupakan rasa sakit karena ditinggalkan ayahnya dan meredakan rasa rindunya yang menggebu-gebu. Ia ingin di masa depan, saat ia bermimpi mengenai ayahnya dan ketika terbangun, tidak akan ada air mata yang menetes melainkan sebuah senyuman yang muncul, atau tawa yang akan muncul ketika melihat nama Ultraman di ponselnya. Rena yakin, ayahnya pasti ingin diingat sebagai pahlawan yang selalu membawa kebahagiaan untuk anak-anaknya, dengan dongeng-dongeng tidak masuk akalnya, guyonan garingnya, dan suaranya yang tidak terlalu merdu ketika bernyanyi.

Oleh karena itu, Rena berjanji pada dirinya sendiri untuk bangun dari ‘tidurnya’ dan mulai menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah meninggal dan sebagai manusia yang masih hidup, ia harus menjalani hidupnya dengan semestinya. Bukan berarti nanti ia akan melupakan ayahnya, Rena akan terus mengingat ayahnya, mendongengkan ulang kisah-kisah buatannya tetapi ia tidak akan mengingatnya dengan hati yang penuh luka dan kesedihan, namun dengan kebahagiaan dan kebanggaan bahwa ia memilikinya sebagai ayahnya, sebagai Ultramannya.

Pahlawan yang tidak memiliki kekuatan super, tidak ada teknologi canggih yang mampu membantunya melawan musuh, juga tidak dapat mengubah ukuran tubuhnya menjadi super tinggi, tetapi pahlawan tersebut mampu membuat masa kecilnya begitu berwarna, ia jadi tahu banyak hal karena pahlawan tersebut selalu mengajaknya untuk berdiskusi dan memperkenalkannya pada hal-hal baru, juga pahlawan itu tidak pernah membuatnya merasa sendiri atau kecewa, ia selalu berada di sisi Rena dan adiknya, selalu meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Pahlawan tersebut tidak pernah marah pada Rena meskipun Rena pernah melakukan kesalahan, ia selalu memberikan kesempatan kedua untuk Rena menjadi pribadi yang lebih baik, hanya pahlawan tersebut yang memberinya banyak kasih sayang seperti itu, hanya ayahnya.

Baca Juga: Menjadi Asing Kembali

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Novice

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *