Asal-usul Pesta Halloween, Benarkah Kental dengan Unsur Mistis?


Setiap tanggal 31 Oktober, Pesta Halloween selalu ditunggu-tunggu oleh hampir seluruh masyarakat dunia.

Pada perayaan ini, orang-orang sangat antusias menggunakan kostum unik bertemakan horor, menghiasi rumah dengan pernak-pernik, mengukir labu, menyalakan api unggun, serta mengatakan ‘trick or treat’ dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mendapatkan permen.

Namun, tahukah kamu bagaimana asal-usul Pesta Halloween? Mengapa harus berkostum seram? Apakah ada unsur mistis di dalamnya? Yuk simak penjelasan lengkapnya di artikel ini!

Asal-Usul Pesta Halloween

Pesta Halloween (Pexels/Yaroslav Shuraev)

Pesta Halloween adalah perayaan umat Kristiani setiap tanggal 31 Oktober untuk mengenang orang-orang kudus yang telah meninggal dunia, seperti para santo atau santa (saints, hallows), martir (orang yang berjuang hingga mati dalam membela iman), serta arwah seluruh orang-orang beriman yang meninggal.

Penyebutan Halloween berasal dari bahasa Skotlandia, ‘All Hallow’s Eve’ yang artinya malam yang dikuduskan atau malam sebelum Hari Raya Semua Orang Kudus.

Awalnya, perayaan ini pertama kali diadakan pada tanggal 13 Mei 609 dengan sebutan All Saint’s Day. Pada saat itu, Pope Boniface IV mendirikan Phanteon di Roma untuk menghormati para martir kristiani yang meninggal.

Namun, pada tahun 835, perayaan All Saint’s Day dipindahkan menjadi tanggal 1 November oleh Paus Gregorius IV bertepatan dengan festival Samhain bangsa Celtic Kuno. Mereka kemudian memperingati malam Halloween pada 31 Oktober.

Pengaruh festival samhain pada perayaan Halloween

Illustasi Festival Samhain (Pexels/Евгения Егорова)

Sejak 2.000 tahun yang lalu, bangsa Celtic Kuno merayakan festival Samhain setiap 1 November, bertepatan dengan waktu panen menuju musim dingin yang sangat berat, bahkan identik dengan kematian.

Bangsa Celtic percaya bahwa pada malam sebelum tahun baru 1 November, batas dunia roh dan manusia sangat tipis, sehingga roh-roh orang mati bisa pergi ke dunia manusia.

Tak hanya roh keluarga yang pulang, namun tipisnya batas dunia ini juga membuat peri-peri dan roh jahat bisa turun ke bumi.

Roh-roh jahat ini bisa merusak tanaman, bahkan menyamar menjadi seperti keluarga yang sudah meninggal.

Oleh karena itu, pada festival Samhain, orang-orang akan mengenakan kostum kepala binatang dan kulit binatang untuk mengusir roh jahat.

Karena bertepatan dengan masa panen, orang-orang juga membakar tanaman dan hewan-hewan di api unggun sebagai persembahan kepada dewa-dewi.

Tradisi ini kemudian diadaptasi dalam pesta Halloween yang menggunakan kostum seram serta berkumpul membuat api unggun.

Bedanya, pesta Halloween bukan bertujuan untuk memberikan persembahan kepada dewa-dewi, namun memperingati kematian orang-orang suci (kudus) oleh umat Kristiani.

Misteri simbol labu pada pesta Halloween

Labu Jack O’Lantern (Pexels/Toni Cuenca)

Salah satu ciri khas pesta Halloween adalah terdapat labu yang diukir menjadi wajah menyeramkan mirip monster.

Ukiran labu seram ini adalah simbol karakter Jack O’Lantern, yaitu seorang arwah yang berkeliaran membawa lentera karena telah menipu iblis.

Menurut legenda Irlandia, seorang pemuda bernama Stingy Jack mengundang Iblis untuk minum bersama. Namun ia tidak ingin membayar minuman itu dan meminta Iblis agar berubah menjadi koin.

Jack kemudian meletakkan koin tersebut di kantong yang terdapat salib perak, sehingga iblis tidak bisa kembali ke wujud aslinya.

Jack akan membebaskan iblis dengan syarat iblis tidak boleh mengganggu Jack selama satu tahun dan tidak akan mengambil jiwa Jack saat ia mati.

Lagi-lagi Jack menipu Iblis dengan mengukir tanda salib di pohon, sehingga ia berhasil membujuk iblis agar tidak mengganggunya hingga sepuluh tahun.

Iblis yang kesal karena berhasil ditipu Jack lantas membalas dendam.

Saat Jack meninggal, iblis mengirimkannya ke malam yang gelap dengan hanya ditemani oleh bara api sebagai penerang jalan.

Jack kemudian memasukkan batu bara tersebut ke dalam lobak untuk menjadikannya lentera. Sejak saat itulah orang-orang menyebut hantu Jack menjadi Jack O’Lantern atau Jack of The Lantern.

Saat Halloween, orang-orang mengukir labu sebagai pengganti lobak dengan wajah seram kemudian meletakkannya di dekat jendela atau pintu untuk menakuti Stingy Jack dan mengusir roh jahat lainnya yang berkeliaran di sekitar rumah.

Permainan ramalan saat pesta Halloween

Permainan Fortune Telling (Pexels/Anastasia Shuraeva)

Pada malam Halloween, arwah-arwah yang kembali ke bumi diyakini dapat membantu meramal masa depan. Beberapa permainan sering dilakukan untuk memeriahkan pesta Halloween.

Salah satunya adalah permainan ramalan atau penenungan. Namun, tradisi ini hanya dilakukan oleh kalangan tertentu karena dianggap sebagai praktik yang ‘berbahaya’.

Misalnya di Skotlandia, terdapat tradisi meramal pasangan dengan mengiris apel kemudian melemparkan kulit apel itu ke bahu seseorang.

Huruf yang terbentuk dari kulit apel yang jatuh itu diyakini sebagai huruf pertama nama pasangan orang tersebut di masa depan.

Menurut tradisi, apabila seorang perempuan yang belum menikah duduk di ruangan gelap sambil menatap cermin pada malam Halloween, maka wajah pasangannya dapat terlihat di cermin tersebut.

Namun, jika yang terlihat di dalam cermin adalah tengkorak, artinya ia akan ditakdirkan meninggal sebelum menikah.

Selain itu, orang-orang juga sering bermain fortune telling atau membaca nasib dengan memilih kertas yang berisi simbol-simbol penuh arti.

Misalnya simbol dolar menggambarkan kekayaan, kancing artinya tidak akan beristri, beras menyimbolkan pernikahan, kunci melambangkan ketenaran, dan sebagainya.

Arti kata ‘Trick or Treat’ saat Halloween

Trick or Threat Saat Halloween (Pexels/Yaroslav Shuraev)

Saat Halloween, biasanya anak-anak datang ke rumah-rumah sambil mengenakan kostum seram dan menanyakan ‘trick or treat?’ kepada penghuni rumah.

Istilah trick or treat berasal dari bahasa Inggris. Trick dapat diartikan sebagai kenakalan. Sedangkan treat maksudnya adalah pemberian.

Jadi, ketika penghuni rumah menjawab ‘trick’, maka ia akan dijahili oleh anak-anak. Namun, jika ia menjawab ‘treat’, ia harus memberikan makanan kepada mereka, seperti permen, kue, atau coklat.

Meskipun terkesan memaksa, namun mereka melakukannya dengan hati gembira dan menganggapnya sebagai permainan.

Tradisi memberikan makanan saat Halloween sebenarnya mengadopsi All Souls Day yang diperingati pada 2 November. Pada perayaan ini, orang-orang mengingat keluarga yang sudah meninggal dengan cara memberikan kue kepada orang lain yang membutuhkan.

Orang-orang miskin akan pergi ke rumah-rumah untuk meminta makanan lalu mendoakan keluarga yang sudah meninggal di rumah tersebut.

Nah itulah asal-usul Pesta Halloween yang dirayakan hingga saat ini.

Bagaimana menurutmu? Apakah Pesta Halloween masih mengandung unsur mistis dan menyeramkan? Tulis pendapatmu di kolom komentar yuk!

Baca Juga: Akulturasi Budaya Jawa dengan Islam Melalui Ketupat

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Explorer

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *