Asal-usul Kota dan Perkembangannya

Berbagai pendapat mengenai kemunculan kota pertama kali, memiliki versi yang beragam. Kota muncul sekitar abad 3500 SM atau 4000 SM.


Perkembangan dan Munculnya kota tercatat dalam sejarah berawal dari penemuan kota tertua di Irak bagian selatan pada 4000 SM. Munculnya kota biasanya dikaitkan dengan sebuah desa. Pada awalnya kota-kota di dunia merupakan desa dan tempat bermukim para petani. Dengan dimulainya budaya bercocok tanam, orang-orang mulai menetap di wilayah tertentu, yaitu desa, mereka saling berhubungan berkomunikasi sehingga melahirkan akumulasi pengetahuan yang melahirkan kota. Bisa dikatakan kota merupakan pusat kebudayaan. Pada umumnya kota-kota besar muncul pertama kali di tepi sungai besar.

Ada juga yang mengatakan bahwa munculnya desa atau budaya bercocok tanam adalah sekitar 10.000 tahun yang lalu di Meksiko, yaitu sekitar 9000-7000 SM. Sebelumnya manusia diperkirakan hidup dalam pengembaraan, berburu, menangkap ikan, meramu dan berada di gua-gua.

Teori evolusi sangat mempengaruhi pandangan para ahli perkotaan dalam melihat perkembangan suatu kota. Menurut perspektif evolusioner, perkembangan kota selalu dikaitkan dengan pedesaan. Desa dianggap mewakili masyarakat yang masih bersahaja (desa tradisional), sedangkan kota dianggap mewakili masyarakat modern.

Pengaruh dari perspektif evolusi yang kemudian menjadi landasan utama paradigma modernisasi akan membawa kita untuk berpikir atau bahkan yakin bahwa :

  1. Setiap desa akan berkembang menjadi kota, kota pun berkembang melewati tahapan-tahapan perkembangan tertentu.
  2. Setiap kota merupakan hasil perkembangan dari suatu desa atau pedesaan.
  3. Tahap-tahapan perkembangan ini bersifat linear dan universal.

Baca Juga: Meningkatkan Rasio Elektrifikasi di Daerah 3T dengan Green Technology Of Clay (GTC)

Evolusi Perkembangan Kota

Dalam perspektif evolusioner, setiap desa akan berkembang menjadi kota atau bersifat kekotaan. Setelah menjadi kota, kota pun akan berkembang melalui tahapan-tahapan tertentu. Lewis Mumford dalam bukunya The Culture of Cities yang terbit pada 1938 merumuskan arah perkembangan sebuah kota sebagai berikut :

Pertama, eupolis. Merupakan suatu pusat dari daerah pertanian dan memiliki adat istiadat yang bercorak pedesaan dan masih sederhana. Menurut Lewis Mumford, desa pertanian merupakan prototipe dari kota.

Kedua, polis. Ditandai dengan berkembangnya industrialisasi melalui pembagian kerja yang lebih sistematis, dan merupakan awal dari mekanisasi. Namun polis masih merupakan kumpulan keluarga.

Ketiga, metropolis. Ciri utama dari metropolis adalah akumulasi penduduk yang besar serta adanya pengembangan jaringan perdagangan dengan luar daerah.

Keempat, megalopolis. Megalo berarti besar. Merupakan awal dari keruntuhan kota di bawah pengaruh sistem kapitalistik. Segala sesuatunya serba besar dan kuat.

Kelima, tyranopolis. Berasal dari kata Tirani yang memiliki arti penguasa yang kejam. Yaitu sebuah kota dengan ciri-ciri antara lain perluasan dari parasitisme ke dalam bidang ekonomi dan sosial. Dan yang terakhir,

Keenam, Necropolis. Akhir dari perkembangan suatu kota maju, yakni kota mati.

Paradigma evolusioner ini tidak selamanya terbukti benar. Masalahnya tidak semua desa yang bersahaja dengan sendirinya, atau pasti berubah menjadi kota atau bersifat kekotaan. Dengan demikian sebuah kota belum tentu akan berkembang menjadi kota dengan kategori dan sifat-sifat yang lebih besar dari sebelumnya. Bahkan ada kota yang sebelum berkembang tiba-tiba menjadi kota mati (necropolis sebelum melewati tahapan metropolis atau megalopolis).

Sebagian besar kota-kota di negara berkembang tercipta karena kekuatan ekstern, khususnya oleh penjajah. Hal ini dibuktikan misalnya, kota kota di negara berkembang yang pernah dijajah sebagian besar kotanya berada di sepanjang rel kereta api atau di sepanjang jaringan hubungan air (sungai, pantai). Hal ini terjadi agar hubungan dengan negara penjajah menjadi lebih mudah.

Perkembangan Kota di Indonesia 

Banyak kota di Indonesia berkembang karena dulunya menjadi pusat pemerintahan, sehingga dalam struktur pemerintahan kota kecil biasanya merupakan ibu kota kecamatan atau ibu kota kabupaten. Setingkat lebih tinggi adalah kota otonom, yang dalam masa lalu dikenal dengan istilah kotamadya atau kotapraja. Sebagian kotamadya ada yang berkedudukan sebagai ibu kota provinsi, bahkan hampir semua ibu kota provinsi berstatus kotamadya.

Kota Jakarta memiliki status yang istimewa yaitu sebagai provinsi khusus, karena kedudukannya sebagai ibu kota negara. Beberapa kota di Indonesia saat ini berkembang menjadi kota yang sangat besar, yang melebihi kota-kota lain walaupun statusnya hanya sebagai ibu kota provinsi dengan status administratif Kota (kotamadya). Kota-kota tersebut antara lain Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, dan Makassar.

Referensi :

Purnawan Basundoro, 2012. Pengantar Sejarah Kota, Yogyakarta : Ombak

Lewis Mumford, 1938. The Culture of Cities

Baca Juga: Mengintip Manfaat Si Mungil dari Tanaman Kersen

 

BekelSego adalah media yang menyediakan platform untuk menulis, semua karya tulis sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Like it? Share with your friends!

Novice

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *