7 Cara Mencegah Tantrum Berulang Pada Anak Autis


Ilustrasi mencegah tantrum pada anak autis (pixabay.com/Mimzy)

Seorang anak dikatakan autis jika memiliki keterlambatan pada perkembangan perilaku, interaksi dan komunikasi. Salah satu respons emosional yang sering muncul pada anak penyandang autis adalah tantrum.

Apa itu tantrum? Tantrum adalah respon emosional yang intens dan tidak terkendali, yang seringkali ditandai oleh kemarahan atau frustrasi. Perilaku tantrum dapat melibatkan berbagai tindakan, seperti berteriak, menangis, merusak benda, bahkan menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Anak autis cenderung sulit dalam mengontrol emosi dan berkomunikasi untuk mengungkapkan amarah yang mereka rasakan. Tantrum terjadi ketika anak ingin mengekspresikan diri, namun tidak terkontrol sehingga menyebabkan ledakan emosi.

Berikut beberapa cara mencegah tantrum pada anak autis, agar tidak sering terjadi berulang kali

1. Kenali apa yang membuat anak menjadi emosi, dan buat zona nyaman di rumah

Kenali dulu, nih, apa yang bikin sang anak bisa ‘meledak’. Kadang, hal sepele kayak tag baju yang gatal atau suara blender bisa jadi pemicu. Jadi, jangan lupa untuk jadi mencari tahu hal apa yang bisa mengganggu mereka.

Kadang, dunia ini terlalu ‘ramai’ buat anak autis. Suara bising, cahaya terang, atau bahkan sentuhan yang terlalu berlebihan. bisa membuat menjadi anak merasa tidak nyaman. Bayangin aja, gimana rasanya kalau kita harus dengerin konser rock sambil nonton kembang api non-stop? Pasti kepala kita bakal pusing, kan? Itulah yang dirasakan anak autis ketika sensory overload terjadi

Bikin ‘zona nyaman’ di rumah itu penting banget. Mulai dari rutinitas yang sudah dihapal oleh anak, sampai tempat baca atau tempat makan di rumah yang mereka sukai. Semua hal tersebut bisa membantu anak autis merasa aman dan tenang.

Satu lagi, kalau ada perubahan rencana, kasih tahu mereka dengan cara yang fun, seperti lewat gambar atau cerita.

Baca Juga:

2. Gunakan teknik relaksasi

Anak yang autis sangat butuh ‘me time’ agar mereka bisa tetap nyaman dan tenang. Bunda juga mengajarkan mereka agar bisa mendapatkan ‘me time’ sendiri, tanpa bantuan dari orang lain.

Nah, kita bisa ajarin mereka teknik relaksasi sederhana. Bisa mulai dari napas dalam-dalam, hembuskan nafas secara perlahan, memejamkan mata, atau istigfar.

3. Alihkan Perhatian anak

Kalau anak  mulai menujukkan tanda-tanda mau tantrum, coba alihkan perhatian mereka. Bisa dengan mainan favorit atau ajak mereka ngobrol tentang hal yang mereka suka. Atau juga bisa mengajak anak melakukan hobinya, seperti melukis, membaca, dan lain sebagaimya.

Kadang, yang dibutuhkan hanya sedikit udara segar. Ajak si kecil ke taman atau halaman rumah. Biarkan dia berlari-larian atau main pasir. Intinya, bikin mereka lupa sama hal yang bikin mereka tantrum.

4. Jauhkan anak autis dari musik

Musik dan lagu sering kali mengandung lirik dan melodi yang mengekspresikan berbagai perasaan senang, bahagia, sedih, kehilangan, atau mungkin perasaan kecewa. Mendengarkan musik terlalu sering pada anak autis, dapat memengaruhi suasana hatinya dengan seketika.

Bahkan jika awalnya anak hanya mendengarkan musik untuk bersantai atau menghibur diri, karena tertalu lama dan sering, anak bisa terbawa dengan suasana negatif dari musik seperti sedih, kecewa, kehilangan dan lain sebagainya.

Penelitian yang dilakukan oleh Hargreaves, North, dan Tarrant menunjukkan bahwa hubungan personal dengan musik, termasuk preferensi genre tertentu atau lagu-lagu yang memiliki makna emosional, dapat memperkuat pengaruh musik terhadap emosi seseorang.

Alangkah sangat bagus jika musik yang biasa di dengar oleh anak yang autis, diganti oleh suara murotal Al-Quran

5. Mendengarkan AL-Qur’an

Memiliki anak yang menderita autis memang berat. Anak penderita autis seperti seorang yang kerasukan setan. Selain tidak mampu bersosialisasi, penderita tidak dapat mengendalikan emosinya. Kadang tertawa terbahak, kadang marah tak terkendali.

Jika biasanya ayah dan bunda setiap saat sering mendengarkan musik di rumah, alangkah baiknya suara musik tersebut diganti dengan alunan murotal Al-Qur’an. Atau lebih bagus lagi sih suara mengaji dari ayah dan bunda sendiri.

Suara-suara merdu dari ayat Al-Qur’an, bisa membuat seseorang menjadi tenang jiwa dan raganya, termasuk hal ini adalah anak autis. Apalagi jika mendengar suara Al-Quran secara terus menerus, jiwa akan menjadi tenang dan pikiran bisa menjadi jernih.

Al-Qur’an juga bisa menjadi obat penyembuh penyakit secara lahir dan batin. Dalam surat al-Isra’ ayat 82, Allah Swt berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

6. Singkirkan gambar, foto atau patung tentang manusia atau makhluk hidup di dalam rumah

Sama halnya dengan mendengarkan musik, melihat foto, gambar, atau patung tentang makhluk hidup dapat memengaruhi emosi seseorang.

Bisa jadi foto orang yang dipajang di ruang tamu misalnya, pernah menyakiti anak tersebut, atau gambar kucing yang pernah mencakarnya. Hal tersebut jika dilihat berulang-ulang oleh anak akan menimbulkan perasaaan emosional yang dalam.

Foto orang yang dipajang, bisa juga membuat anak yang autis menjadi takut, karena seolah-olah foto tersebut mengawasi dan memandang anak secara terus menerus.

Dalam hukum islam sebagian ulama juga berpendapat bahwa, memajang foto atau menaruh patung di dalam rumah, hukumnya haram.

Baca Juga:

7. Berikan anak pujian dan hadiah

Setelah anak autis bisa berhasil melewati momen-momen tanpa tantrum, jangan lupa kasih mereka pujian, atau juga bisa dengan memberi hadiah, Ini bakal jadi hal yang tidak terlupakan buat mereka.

Nah, itu dia beberapa cara mencegah tantrum pada anak autis. Ingat, setiap anak itu unik, jadi mungkin butuh sedikit eksperimen untuk menemukan cara yang paling pas buat si kecil. Semangat, ya!

Sumber:

  • Penanganan Anak Autis dalam Interaksi Sosial Autism Children Handling on Social Interaction, Asrizal, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, 2016
  • Peran Orang Tua Terhadap Penanganan Perilaku Anak Autis X Di SMK 4 Padang, Heru Pratama Syafri1 dan Mega Iswari, Universitas Negeri Padang, 2021 

Baca Juga: Dear Orang Tua, Inilah 3 Jenis Sekolah Untuk Anak Berkebutuhan Khusus