5 Tanda Seseorang Memiliki Sisi Emotional Sponge, Apa saja?


Ilustrasi emotional sponge

Pernahkah berada di dalam zona pikiran dengan gaungan suara yang berbunyi seperti ‘kenapa aku kepikiran terus sama masalah orang lain?’ atau ‘kok aku merasa mudah kasihan sama orang lain, padahal itu bukan masalahku?’.

Jika merasa demikian, maka kemungkinan itu adalah wujud dari perasaan sebagai orang yang memiliki sisi emotional sponge (penyerap emosi).

Secara pengertian, emotional sponge adalah sebuah kondisi di mana seseorang dapat memahami perasaan orang di sekitarnya atau orang secara luas hingga benar-benar merasakan pada level emosi yang cukup dalam.

Adapun akibat yang dirasakan sebagai orang yang mudah menyerap emosi orang lain dapat dilihat dari tanda-tanda yang menyertainya seperti pada ringkasan di bawah ini selengkapnya.

1. Merasa gelisah

Perasaan gelisah merupakan salah satu bagian emosi yang memiliki ruang tersendiri di dalam hidup manusia.

Dengan adanya emosi gelisah, manusia dapat meningkatkan sisi kewaspadaannya dalam menilik suatu hal berupa kejadian atau mudah sensistif pada keadaan-keadaan yang mengundang efek negatif.

Jika berada di posisi orang yang mengidap emotional sponge, mereka akan bisa merasakan dengan mudah kegelisahan dari masalah orang lain yag didengarnya, baik orang tersebut adalah orang terdekat maupun orang-orang yang ditemui secara acak.

Tidak sampai di situ, seorang emotional sponge bisa kepikiran terus-menerus pada masalah orang yang sudah didengarnya hingga mengganggu suasana hatinya dalam menjalani keseharian seperti tidak nafsu makan, susah tidur, terlalu banyak berpikir dalam menentukan segala sesuatu, dan tidak selera berbicara pada siapa pun.

Baca Juga:

2. Merasa bertanggungjawab

Acap kali seorang emotional sponge memiliki satu perasaan untuk menolong orang lain yang sedang kesusahan tanpa menghiraukan status atau batasan kemampuan dirinya sendiri. Padahal, tanggungjawab untuk membantu orang lain itu bukanlah kewajibannya.

Suasana hati yang selalu merasa bertanggungjawab ini disebabkan empati yang begitu tinggi dan cenderung tidak tega ketika melihat orang lain mengalami kesulitan sehingga terdapat di dalam dirinya sebuah dorongan tanggungjawab untuk berupaya memberikan solusi sekaligus jalan keluar.

Memiliki perasaan bertanggungjawab seperti ini memang terlihat bagus, namun perlu diperhatikan pula bahwa tidak setiap hal akan menjadi sebuah prioritas untuk ikut ke dalam masalah orang lain, karena bisa jadi persepsi orang malah melihatnya sebagai individu yang terlalu suka ikut campur.

3. Menjadi pendengar yang baik

Terdeteksi sebagai emotional sponge mungkin ada kebanggan tersendiri, karena salah satu sifatnya adalah dapat membuat orang lain nyaman ketika mencurahkan perasaan ataupun cerita-cerita sensitif.

Sifat sebagai pendengar yang baik ini bisa dikatakan sebagai perpanjangan dari sebuah empati yang dapat menimbulkan perasaan untuk jauh lebih mengerti bagaiamana keadaan-keadaan rumit yang sedang dialami seseorang.

4. Memendam perasaan

Karena terlalu fokus dalam memikirkan perasaan orang lain, seorang yang memiliki sisi emotional sponge juga rela memendam semua emosi dan perasaanya.

Tidak jarang, mereka akan sebal dan geram sendiri karena berada di sebuah persimpangan dilema ketika bereaksi dengan kisah-kisah orang yang sedang mengalami penderitaan.

Baca Juga:

5. Suasana hati mudah berubah

Lazimnya kondisi suasana hati yang mudah berubah-ubah (mood swing) ini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti pubertas, menopause, menstruasi, kondisi kesehatan menurun, stres, sistem imun terganggu, makanan, kehamilan, perubahan cuaca, bahkan sampai ketergantungan obat-obatan dan alkohol.

Namun, kondisi ini juga dapat tercetus ketika seorang emotional sponge mudah terbawa arus cerita dari orang lain.

Beragam emosi seperti marah, sedih, kecewa, dan gundah akan mudah terbalut di dalam relung hati dan berujung mempengaruhi pola kehidupan sehari-harinya.

Itu dia tanda-tanda bagaimana seseorang memiliki sisi emotional sponge yang memiliki kelebihan menjadikan diri lebih sensitif, peka, dan berempati pada kesulitan orang lain.

Namun di sisi lain, emotional sponge juga harus dikendalikan dengan cermat agar tidak menjadi bumerang terhadap diri sendiri.

Adapun tips yang bisa dikembangkan agar lebih mawas diri sebagai emotional sponge adalah dengan membuat batasan serta mengurangi interaksi dengan orang-orang yang akan menjatuhkan profil pribadi atau orang-orang toksik, bijak dalam membedakan keutamaan perasaanmu dan perasaan orang lain melalui self-reflection, dan tidak terhanyut menjadi seorang people pleaser.

Baca Juga: Kenapa Pria Cenderung Ingin Punya Pasangan Lebih Dari Satu? Ini 4 Alasannya


Emperor