3 Model Shrinkflation, Trik Mengurangi Isi Dengan Harga Yang Sama

Dengan konsep shrinkflation, konsumen akan merugi, keuntungan produsen tetap sama


Ilustrasi shrinkflation (pixabay.com/ccipeggy)

Berbagai peristiwa besar dunia saat ini seperti pandemi Covid-19, naiknya harga minyak mentah dunia, perang antara Rusia dan Ukrania dan semakin melambungnya harga bahan pangan membuat tingkat inflasi di berbagai negara terus meninggi. Dengan demikian berbagai produsen barang serta makanan pun memutar otak dalam mengatur strategi penjualan mereka.

Namun tahukah kamu bahwa terdapat beberapa produk terutama produk makanan dan minuman dalam kemasan, walaupun harganya tetap sama tetapi ukuran menjadi lebih kecil dibandingkan dengan beberapa waktu sebelumnya, itulah shrinkflation.

Inflasi yang tinggi dan penurunan daya beli masyarakat

Hampir semua negara di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia tengah merasakan inflasi yang berat. Harga-harga bahan baku, upah tenaga kerja, dan faktor-faktor produksi lainnya dapat naik sebagai akibat dari inflasi.

Inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli masyarakat. Ketika harga-harga naik secara umum, jumlah barang dan jasa yang dapat dibeli oleh masyarakat akan menurun. Masyarakat harus membayar lebih banyak mahal untuk membeli jumlah produk yang sama seperti sebelumnya. Ini berarti bahwa masyarakat mengalami penurunan daya beli mereka.

Shrinkflation, penyusutan ukuran produk yang dijual

Menurut Edgar Dworsky seorang pengacara hak konsumen di Amerika serikat, pada dasarnya produsen memiliki 3 cara dalam menekan biaya produksi yang mereka harus keluarkan. Cara pertama adalah menaikan harga jual produk mereka, yang kedua adalah mengurangi ukuran produk mereka namun dengan harga jual yang sama, dan yang ketiga adalah membuat ulang produk dengan bahan-bahan yang lebih murah.

Namun dalam realitanya banyak produsen lebih memilih cara yang kedua, yakni membuat ukuran produk mereka lebih kecil namun dengan harga jual yang sama. Fenomena inilah yang dalam ilmu ekonomi modern sering disebut dengan shrinkflation. Istilah shrinkflation ini sendiri pertama kali dicetuskan oleh Pippa Malmgren seorang ekonom wanita asal Amerika Serikat pada tahun 2009.

Dengan demikian shrinkflation dapat didefiniskan sebagai penyusutan ukuran sebuah produk namun memiliki harga jual yang sama. Kebanyakan strategi shrinkflation ini banyak diterapkan dalam industri makanan dan minuman. Lalu mengapa strategi shrinkflation ini banyak digunakan di berbagai industri?

Menurut Jun Yao yang merupakan dosen senior di universitas Macquarie AS dalam jurnal penelitian yang ditulisnya pada tahun 2009 menyimpulkan bahwa kebanyakan konsumen tidak menyukai jika harga suatu barang menjadi naik, namun mereka lebih menerima jika ukuran suatu produk menjadi lebih mengecil dibandingkan dengan sebelumnya.

Shrinkflation sering terjadi dalam industri makanan dan minuman, di mana ukuran atau berat produk seperti makanan kemasan, minuman, atau permen dikurangi, tetapi harga jualnya tetap sama. Produsen menggunakan strategi ini untuk menjaga keuntungan mereka tanpa membuat harga jual terlalu tinggi yang dapat mengurangi minat pembeli.

Dalam beberapa kasus, produsen juga dapat mengklaim bahwa perubahan ukuran atau berat produk merupakan bagian dari upaya untuk mengendalikan kalori atau mengurangi penggunaan bahan-bahan tertentu.

Baca Juga:

Model shrinkflation yang biasa dilakukan oleh produsen

Shrinkflation adalah praktik yang dilakukan oleh produsen atau penjual untuk mengurangi ukuran, berat, atau kuantitas produk mereka tanpa mengurangi harga jual yang sama. Berikut adalah beberapa cara umum di mana shrinkflation dapat dilakukan:

1. Mengurangi jumlah ukuran atau berat

Dalam hal ini produsen mengurangi ukuran atau berat produk secara langsung. Misalnya, sebuah bungkus permen yang sebelumnya berisi 100 gram, dikurangi menjadi 90 gram tanpa ada perubahan harga jual yang signifikan. Contoh lain, sebuah kotak susu yang sebelumnya berisi 500 gram susu dikurangi menjadi 400 gram. Harga tetap sama, namun konsumen akan mendapatkan jumlah produk yang lebih sedikit.

Perubahan ini mungkin jarang diperhatikan oleh konsumen karena penurunan ukurannya yang relatif kecil. Biasanya konsumen lebih melihat kualitas seperti rasa dan aroma, sehingga untuk ukuran menjadi kurang diperhatikan.

2. Menambahkan dan mengisi ruang kosong

Contoh kasus seperti ini, produsen membuat ukuran kemasan yang sama tetapi banyak ruang kosong di dalamnya. Ruang kosong tersebut diisi penuh oleh udara sehingga tampak padat dan besar.

Hal ini memberikan kesan bahwa produk tersebut tetap sama ukurannya seperti sebelumnya, tetapi sebenarnya isi produk telah dikurangi. Contohnya adalah kemasan chip atau keripik yang tampak besar tetapi berisi lebih banyak udara atau ruang kosong di dalamnya.

3. Merubah dan menambahkan sesuatu ke dalam kemasan

Di sini para produsen melakukan sedikit perubahan pada kemasan produk untuk memberikan kesan bahwa produk tersebut tetap sama ukurannya. Contohnya, kemasan toples kue kering, yang dibuat melengkung ke dalam. Tanpa disadari oleh konsumen, isi kue kering tersebut berkurang

Atau bisa juga produsen menggunakan kemasan yang lebih besar atau di desain ulang sehingga tampak lebih besar, tetapi isi produk sebenarnya telah dikurangi dengan menambahkan kertas atau karton untuk mengganjal bagian bawah. Yang tampak dari luar adalah isi produk yang semakin banyak. Contoh seperti ini cukup sering ditemui di kemasan kaleng produk biskuit.

Baca Juga:

Konsep shrinkflation merugikan konsumen

Shrinkflation dapat menimbulkan kekecewaan bagi konsumen, karena para konsumen membayar jumlah yang sama namun mendapatkan produk yang lebih sedikit. Dan tidak ada pemberitahuan mengenai perubahan ini sebelumnya. Beberapa konsumen yang merasa bahwa praktik ini tidak jujur.

Konsep shrinkflation memang merugikan para konsumen. Apalagi bagi para pelanggan setia suatu produk yang sudah bertahun menggunakan produk tersebut. Namun dalam hal ini, para produsen juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Produsen beralasan bahwa mereka harus menghadapi kenaikan biaya bahan baku, tenaga kerja, dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi harga produksi.

Dari ulasan di atas bisa disimpulkan bahwa shrinkflation adalah strategi dalam manajemen bisnis yang banyak digunakan. Bagi perusahaan, shrinkflation adalah solusi untuk menjaga kualitas produk meskipun dengan melakukan pengurangan. Shrinkflation merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan dengan perubahan tersebut tanpa mengurangi margin keuntungan perusahaan secara signifikan.

Baca Juga: Berbisnis Dengan Teman, Lakukan 5 Hal ini Agar Pertemanan Tetap Aman


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *