11 Kesalahan Dalam Menulis Artikel di Media Online, Penulis Pemula Wajib Tahu!


Ilustrasi menulis artikel di media online (pixabay.com/ StartupStockPhotos)

Pastinya semua penulis ingin agar tulisannya dibaca oleh banyak orang. Tidak hanya itu, setiap penulis akan bangga jika artikelnya bermanfaat, menjadi referensi, di share oleh banyak orang.

Menulis artikel di media online memerlukan perhatian khusus terhadap ejaan, tanda baca, dan gaya penulisan. Banyak penulis yang masih belum memahami cara menulis artikel yang baik dan enak dibaca, sehingga artikelnya sepi pembaca.

Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh penulis pemula dalam menulis artikel di media online.

1. Judul yang tidak menarik atau menyesatkan

Judul adalah muka dari artikel kita. Kalau judulnya datar, pembaca bisa-bisa langsung skip tanpa kasih kesempatan kedua. Jadi, buatlah judul yang bisa bikin pembaca penasaran dan berpikir, “Wah, ini pasti seru!”

Contoh: “Cara Cepat Kaya dalam Semalam!” padahal isi artikelnya tentang menabung dan berinvestasi jangka panjang. Judul seperti ini bisa membuat pembaca merasa tertipu.

Baca Juga:

2. Pembukaan yang melempem dan tidak nyambung

Pembukaan artikel itu ibarat jabat tangan pertama. Kalau lemas, kesan pertamanya sudah tidak menarik. Pembukaan yang kuat itu yang bisa langsung ‘menyentil’ perhatian pembaca dan membuat mereka ingin terus membaca.

Pembukaan artikel itu juga ibarat pintu masuk rumah. Kalau pintunya nggak nyambung sama rumahnya, gimana tamu mau masuk? Contoh: Artikel tentang tips diet malah dibuka dengan cerita panjang lebar tentang sejarah roti.

3. Fakta atau data yang salah

Di era informasi yang serba cepat ini, penting banget untuk memastikan fakta yang kita tulis itu akurat. Salah sedikit, bisa-bisa kita dihujat netizen. Jadi, selalu cek fakta yang akan kita sajikan.

Dalam dunia yang penuh dengan informasi berseliweran, kita harus ekstra hati-hati dengan fakta yang kita sajikan, jangan sampai kita menulis berita bohong atau hoax.

4. Kesalahan dalam ejaan dan tanda baca

Kesalahan dalam ejaan atau sering disebut typo dan juga penggunaan tanda baca yang tidak tepat akan membuat pembaca menjadi bingung, dan mungkin bisa salah tafsir. Selain dua hal tersebut, juga sering ditemui:

  1. Kesalahan dalam penggunaan huruf kapital. Huruf kapital yang benar digunakan di awal setiap kalimat, pada petikan langsung, menyebut kata ganti Tuhan, nama gelar, keturunan, nama orang, negara, geografi, tanggal, dan bulan.
  2. Kesalahan dalam penulisan huruf miring. Huruf miring digunakan untuk menulis nama buku, surat kabar, majalah yang dikutip dalam tulisan, kelompok kata yang mengkhususkan huruf, dan bagian yang ingin dipertegas, serta ungkapan asing atau nama ilmiah.
  3. Kesalahan penulisan kata dasar. Kata dasar yang baik dan benar ditulis satu kesatuan tanpa pemisahan. Jika ditambahkan imbuhan, harusnya digabung

5. Paragraf dan tulisan yang terlalu panjang

Dalam menulis artikel, paragraf yang panjang akan membuat pembaca kesulitan mengikuti alur pikiran penulis. Apalagi jika bahasanya itu-itu saja dan berputar-putar. Paragraf seperti ini, akan langsung ditinggal oleh pembaca. Pembaca akan mencari sumber berita yang lain.

Idealnya, dalam satu paragraf hanya terdiri dari 3-4 baris. Baris 2-4 merupakan penjelasan dari baris yang pertama.

Artikel yang berbelit-belit tanpa poin yang jelas itu ibarat labirin tanpa jalan keluar. Pembaca bisa-bisa tersesat dan memilih untuk ‘evakuasi’ diri. Jadi, pastikan setiap paragraf itu punya tujuan dan mengarahkan pembaca ke kesimpulan.

Baca Juga:

7. Penggunaan kata yang berlebihan dalam menulis artikel di media online

Agar tulisan terlihat banyak dan bisa mencapai 1000 kata misalnya, biasanya penulis mengembangkan kata dan kalimat yang ada agar terlihat lebih panjang. Hal ini sebenarnya boleh saja, namun terlihat lebai dan tidak terlihat elegan.

Contoh: “Sangat sangat sangat penting untuk memahami…” Penggunaan kata ‘sangat’ yang berlebihan bisa membuat teks terasa lebai dan tidak alami.

8. Tidak Menyertakan Sumber atau Referensi

Sumber tulisan penting dicantumkan. Apalagi jika artikel tersebut bertema kesehatan ataupun artikel ilmiah lainnya. Pembaca-pembaca yang ‘berpendidikan’, akan melihat sumber tulisan tersebut dari mana. Mereka akan menutup kembali jika sumber sumber tulisan tidak berasal dari jurnal-jurnal yang sudah terakreditasi.

9. Akhir Cerita yang ‘Mendadak Selesai’

Pernah baca artikel yang tiba-tiba selesai begitu saja? Rasanya seperti nonton film yang tiba-tiba layarnya mati. Akhir artikel harusnya memberikan kesan yang berkesan atau setidaknya memberikan penutup yang memuaskan.

Penutup artikel itu seperti dessert setelah makan besar. Kalau tidak memuaskan, rasanya ada yang kurang. Contoh: Artikel panjang tentang kesehatan mental berakhir dengan, “Jadi, jangan stres ya!” tanpa memberikan solusi atau saran yang konkret.

10. Menyerahkan semua pembuatan artikel kepada tools AI

Nah ini kesalahan fatal yang biasanya dilakukan oleh penulis, yaitu menyerahkan semua pembuatan artikel kepada tools AI, seperti chat GPT, dll. Ingat, tools AI hanyalah mesin yang tidak punya indera, apalagi perasaan. Ada beberapa tema tulisan yang dilarang menggunakan tools AI, misalnya seperti artikel dengan tema wisata, kuliner, kehidupan, ataupun artikel kesehatan.

Penggunaan tools AI diperbolahkan, hanya untuk mencari ide, kerangka tulisan, ataupun sumber-sumber tulisan. Ide dan kerangka tulisan yang didapat dari tools AI, harus dikembangkan lagi oleh penulis secara manual. Untuk itulah penulis harus memiliki penalaran dan analisa yang bagus, agar tulisannya menjadi layak dipublikasikan.

Baca Juga:

11. Mengambil karya tulis atau artikel orang lain (plagiat)

Menulis itu proses belajar. Dengan menulis artikel sendiri, kamu belajar riset, analisis, dan ekspresi. Tapi kalau cara menulis artikel hanya copy-paste dari tulisan orang lain, kamu tidak akan pernah tahu gimana rasanya puas karena berhasil menyelesaikan tantangan menulis.

Plagiarisme itu nggak cuma soal etika, tapi juga huku. Di banyak negara, hak cipta itu dijaga ketat. Kalau sampai ketahuan ‘mencuri’ karya orang lain, bisa-bisa kamu harus berurusan dengan aaprat hukum.

Nah, itu dia beberapa kesalahan yang sering terjadi saat menulis artikel di media online. Ingat, setiap artikel itu unik dan penulis harus tahu cara menulis artikel agar dapat ‘berbicara’ dengan pembaca. Jadi, jangan takut untuk mengekspresikan gaya menulis artikel di media online yang autentik. Selamat menulis dan semoga artikelmu bermanfaat dan banyak dibaca orang.

Baca Juga: 8 Tips Menulis Novel Online, Cara Terbaik Dapatkan Cuan Dari Tulisanmu!


Explorer